Prof Sunarmi, Guru Besar ISI Surakarta, Kenang Kebaikan dan Teladan Romo Mudji
ROMO MUDJI (empat dari kanan) setelah menguji mahasiswa pascasarjana ISI Surakarta bersama Prof Sunarmi (empat dari kiri).--Prof Sunarmi untuk Harian Disway
HARIAN DISWAY - Prof. Dr. Dra. Sunarmi, M.Hum merasa sangat kehilangan ketika mendengar kabar berpulangnya Prof. Dr. Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno, S.J. pada Minggu malam, 28 Desember 2025.
Perempuan yang menjabat sebagai direktur Pascasarjana ISI Surakarta periode 2021-2025 itu mengenal dekat Romo Mudji.
“Romo Mudji itu kontribusinya banyak sekali untuk ISI Surakarta,” paparnya kepada Harian Disway Senin, 29 Desember 2025.
Kendati terpisah jarak karena Romo Mudji lebih sering berada di Jakarta, Sunarmi tetap menjalin relasi baik dengan rohaniwan 71 tahun tersebut. “Banyak kenangan yang menjadi pelajaran bagi saya selama mengenal beliau,” lanjutnya.
BACA JUGA:Romo Mudji Sutrisno Berpulang, Butet Kertaredjasa Kehilangan Inspirator yang Menyejukkan
BACA JUGA:Joko Pinurbo Berpulang, Begini Ragam Ucapan dari Para Tokoh dan Budayawan

PROF SUNARMI merasakan kehilangan besar atas berpulangnya Romo Mudji pada Minggu malam, 28 Desember 2025.--Instagram/ISI Surakarta
Dari Romo Mudji, Sunarmi mengaku mendapatkan banyak teladan. “Ada begitu banyak laku hidup yang selalu beliau bagikan kepada kami di Pascasarjana ISI Surakarta,” ungkapnya.
Sebagai senior, Romo Mudji adalah panutan yang selalu membuka diri pada para juniornya. Sikap itu membuat Sunarmi dan para dosen lainnya segan kepada rohaniwan Katolik yang juga dikenal sebagai pelukis, penulis, dan penyair itu.
“Kepergiannya jelas meninggalkan lubang besar dalam hati kami. Terutama, kami sangat kehilangan kepakaran beliau, tanggung jawab dan motivasi yang selalu beliau bagikan. Tidak hanya kepada kami, tapi juga kepada para mahasiswa kami,” lanjut Sunarmi.
Lebih dari sekadar dosen dan rekan kerja, Romo Mudji adalah sosok panutan yang mengayomi dan tidak lelah memberikan teladan baik. “Beliau banyak memberikan contoh kepada kami soal tanggung jawabt, kesederhanaan, dan terutama etika serta tata krama,” katanya.
BACA JUGA:Buka Pameran Seni Rupa Lintang Lima, Budayawan Prof Suparto Wijoyo Makin Maknai Rasa Rasaning Karsa
BACA JUGA:Peringatan 97 Tahun Lagu Kebangsaan Indonesia Raya Digelar di Makam WR Soepratman, Budayawan Ingatkan Pentingnya 3 Stanza
Meskipun punya nama besar sebagai rohaniwan, seniman, budayawan, dan akademisi, Romo Mudji tidak pernah membesar-besarkan hal tersebut. “Beliau sangat ramah, santun, sederhana, tapi punya semangat pengabdian yang tinggi. Terutama, dalam mengembangkan seni dan budaya,” papar Sunarmi.
Soal tugas, Romo Mudji sangat tertib. “Beliau selalu menghargai waktu,” ucapnya. Teladan itulah yang akan terus dikenang seluruh sivitas akademika ISI Surakarta.
Jenazah Romo Mudji disemayamkan di Kolese Kanisius Jakarta pada Senin dan Selasa, 29-30 Desember 2025. Setelah Misa Requiem di Kapel Kolese Kanisius pada Selasa pukul 19.00 WIB, jenazah dibawa ke Girisonta, Semarang.
Romo Mudji akan dimakamkan pada Rabu, 31 Desember 2025 di Taman Maria Ratu Damai setelah Perayaan Ekaristi di gereja pada pukul 10.00 WIB.
BACA JUGA:Pameran Urban Echoes di Kokoon Hotel Surabaya Hidupkan Jejak Kota Lama Lewat Sketsa
BACA JUGA:Pameran Sketsa Nusantara di Surabaya, Inspirasi Seniman Muda dari Sketsa Kota Lama
“Saya bersyukur pernah bersama-sama dengan beliau. Saya bersyukur pula beliau menjadi bagian penting dari Pascasarjana ISI Surakarta. Interaksi yang luar biasa dan akan selalu terpatri dalam hati saya,” tandasnya. Sugeng tindak, Prof... (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: