Tahap berikutnya adalah produksi hidrogen. Aircela memanfaatkan proses elektrolisis untuk memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.
Oksigen dilepaskan kembali ke atmosfer, sementara hidrogen disimpan sebagai komponen penting pembentuk bahan bakar. Karbon yang telah ditangkap kemudian digabungkan dengan hidrogen untuk menghasilkan metanol.
BACA JUGA:Menilik Kemajuan Tiongkok dalam Kereta Berbahan Bakar Hidrogen: Efisiensi yang Menarik Pasar Eropa
Metanol tersebut selanjutnya diolah melalui metode methanol-to-gasoline (MTG), sebuah proses katalitik dua tahap yang mengubah metanol menjadi bensin sintetis yang kompatibel dengan mesin kendaraan saat ini.
Aircela juga mengklaim larutan penyerap karbon dapat digunakan kembali, menjadikan sistem ini lebih berkelanjutan. Meski demikian, tantangan utama teknologi ini terletak pada skalabilitas.
"Proses elektrolisis membutuhkan pasokan listrik yang tidak sedikit. Artinya, manfaat lingkungan maksimal baru bisa dicapai jika mesin ini ditenagai oleh energi terbarukan seperti tenaga surya atau sumber bersih lainnya," lanjut Aircela dalam rilis resminya.
Kendati masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut untuk adopsi massal, kehadiran mesin Aircela membuka kemungkinan baru dalam transisi energi. Teknologi ini menunjukkan bahwa bensin bebas fosil dapat diproduksi secara lokal, bahkan di atap bangunan, hanya dengan memanfaatkan udara di sekitar kita. (*)