Misalnya, ada seseorang yang tidak mampu bekerja secara maksimal, dihantui rasa takut, serta kehilangan minat beraktivitas secara terus-menerus.
Dapur umum, sekolah darurat, pembagian bantuan, hingga kegiatan edukasi tentang bencana juga wajib diperhatikan kebutuhannya.
Magister Sains Psikologi Konseling dari City St George's, University of London itu menyebut bahwa anak-anak juga harus diedukasi tentang larangan bermain di area yang berbahaya. Area yang tanahnya masih tidak stabil.
“Orang tua juga sebaiknya tidak memarahi anak, saat timbul perubahan sikap setelah bencana. Misalnya, jadi lebih murung dan lain-lain,” ujarnya.
BACA JUGA:Pemerintah dan Yayasan Buddha Tzu Chi Bangun 2.600 Hunian Tetap Pascabencana di Sumatera
BACA JUGA:PW IKA ITS Jatim Dorong Penanganan Banjir Bandang Sumatra Jadi Bencana Nasional
Livia menceritakan pengalamannya selama bertemu dengan korban bencana tsunami di Aceh pada beberapa tahun silam. Juga banjir di Tapanuli Selatan.
“Air! Teriakan itu terdengar dari para korban terdampak bencana setelah diberitahukan ada gempa susulan. Mereka panik," kenangnya.
“Karena mereka pikir bahwa tsunami akan datang lagi. Itulah pentingnya rute evakuasi dan titik kumpul. Kesiapsiagaan bencana membantu dalam mengurangi rasa panik tersebut,” tambah pendiri Pulih@The Peak itu
Ketika berkunjung ke daerah terdampak bencana banjir di Hapesong dan Batang Toru, Tapanuli Selatan sebelum Natal 2025, Livia menyebut bahwa suasana di sana cenderung lebih terkendali dibandingkan dengan kejadian bencana alam Aceh pada 2004.
BACA JUGA:Gajah di Tengah Bencana Alam
BACA JUGA:Bencana Sumatra Belum Usai, Banjir Bandang Terjang Tegal
Livia pun mengajak semua pihak untuk turut mengulurkan tangan dan menyalurkan energi positif kepada para korban.
“Kalau bisa, kita bantu dengan cara mengirim sesuatu yang menjadi kebutuhan mereka. Tunjukkan solidaritas,” pungkasnya. (*)