Trump dan Halaman Belakang AS

Rabu 07-01-2026,14:31 WIB
Oleh: S. Alamsyah*

TANGGAL 2 Desember 1823, Presiden Amerika Serikat (saat itu) James Monroe memberlakukan kebijakan politik luar negeri AS. Yakni, negara-negara di Benua Amerika adalah halaman belakang (backyard) bagi AS. Dengan demikian, mereka harus dilindungi dan diatur.

Kebijakan geopolitik itu kemudian dikenal dengan sebutan: Doktrin Monroe. Kebijakan itu dikeluarkan untuk menutup pintu bagi negara-negara Eropa yang melakukan kolonialisasi ke negara-negara di Benua Amerika. Terutama negara-negara di selatan dan utara AS. 

Doktrin Monroe rupanya dihidupkan kembali oleh Presiden Donald Trump. Seirama dengan slogan ”Make America Great Again”. Bedanya, Monroe di era Trump tdak lagi untuk menghadang kolonialisasi Eropa. 

BACA JUGA:10 Fakta Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang Ditangkap Trump

BACA JUGA:Warga Diaspora Venezuela Rayakan Penangkapan Maduro, Thank You Trump!

Namun, siapa pun yang menjalin hubungan intens dengan negara-negara di halaman belakang rumahnya. 

Kemarin Doktrin Monroe itu dijalankan untuk Venezuela. Mau tak mau, dunia melihat: dinamika politik di Venezuela bukan lagi sekadar krisis domestik antara Presiden Nicolas Maduro dan oposisinya, Juan Guaido. 

Namun, panggung benturan antara dogma geopolitik klasik dan norma hukum internasional modern. 

Dalam konteks Venezuela, boleh jadi Trump menganggap Maduro secara sengaja dan aktif menyediakan diri untuk berhubungan sangat intens dengan negara-negara yang mengganggu halaman belakang rumah AS. Dan, jalinan hubungan yang intens itu ternyata menyangkut soal energi dan ancaman terhadap dolar AS. Mari kita lihat satu per satu. 

BACA JUGA:Serang Caracas, Donald Trump Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro

BACA JUGA:Donald Trump Tetapkan Cabang Ikhwanul Muslimin sebagai Organisasi Teroris Asing

Fakta pertama, Venezuela memang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia (303 miliar barel). Sabuk Orinoco mengandung minyak berat yang sangat besar. Kepentingan AS terhadap negara halaman belakangnya jelas: doktrin ”energy dominance” kembali kuat. 

Mengalihkan kontrak dari Rusia/Tiongkok (Rosneft/CNPC) kembali ke Chevron atau ExxonMobil adalah target strategis lama Washington. Angka potensi ekonomi puluhan triliun dolar dalam jangka panjang memang akurat secara matematis.

Fakta kedua, meski Bolivia/Cile selama ini dikenal sebagai raja litium, eksplorasi di Venezuela (wilayah Delta Amacuro) terus meningkat. Narasi bahwa Maduro lebih memilih Tiongkok dan Iran daripada perusahaan Barat adalah variabel yang memicu kemarahan AS.

BACA JUGA:Donald Trump Tetapkan Cabang Ikhwanul Muslimin sebagai Organisasi Teroris Asing

Kategori :