Abu Janda Bermulut Besar
ILUSTRASI Abu Janda Bermulut Besar-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
PERMADI ARYA alias Abu Janda menjadi viral di media sosial karena gaya debatnya yang superagresif dalam sebuah acara debat di televisi. Tema debat itu mengenai perang Amerika Serikat-Israel vs Iran.
Abu Janda sengaja dipasang sebagai antagonis, sedangkan di kubu protagonis ada Prof Ikrar Nusa Bhakti, Prof Ferry Latuhihin, dan Dr Feri Amsari.
Mungkin Abu Janda salah makan saat sahur atau lupa minum obat. Gaya debatnya lepas kontrol. Berteriak-teriak sambil menuding-nuding. Ia berdiri dari tempat duduk dan mendatangi lawan debat. Ia bahkan menyebut kata ”tolol” dan ”goblok”.
Abu Janda menyebut semua lawan debatnya ”baper”. Ia bahkan menyebut kata ”bangke” dan ”anjir”. Ia menyela ucapan semua lawan debatnya. Moderator debat, Aiman Witjaksono, akhirnya tidak tahan dan mengusir Abu Janda dari acara.
BACA JUGA:Permadi Arya alias Abu Janda Diangkat Jadi Komisaris Jasamarga Toll Road Operation? Trending di X
Ilustrasi itu menjadi salah satu bukti sebuah adagium lama, the first casualty of war is truth, ’korban pertama perang adalah kebenaran’. Adagium itu diperkenalkan dramawan Yunani, Aeskilus (550 SM).
Adagium tersebut menggambarkan bahwa pertempuran tidak hanya terjadi di medan laga. Perang yang tidak kalah dahsyat terjadi di media, dalam bentuk pertarungan wacana dan perang narasi.
Debat ala Abu Janda itu menunjukkan bahwa media menjadi bagian dari medan pertempuran wacana yang keras. Abu Janda menjadi sosok pembela Israel dan Amerika Serikat yang sangat fanatik. Ia menyerang semua lawan debatnya tanpa peduli logika dan tata krama.
Fenomena yang sama terjadi juga di Amerika Serikat (AS). Pendukung Donald Trump dari kalangan Partai Republik garis keras terkenal paling agresif, kasar, dan nir-etika.
Trump menjadi figur utama. Ia tidak pernah segan berbohong. Bahkan, keterampilannya dalam berdusta itu berada pada level dewa. Bagi Trump, tidak ada konsep bohong. Semua kebohongan dijustifikasi atas nama kepentingan politiknya.
Bagi Trump, tidak ada bohong, hoaks, fake news, atau disinformasi. Yang ada adalah post-truth, alternative fact, dan echo-chamber. Sebagaimana konsep propaganda Nazi yang dipopulerkan Joseph Goebbels: kebohongan yang direpetisi seribu kali akan menjadi kebenaran.
Publik tidak bisa membedakan antara ”truth” dan ”familiarity”. Ketika publik sangat sering mendengar dusta yang sama, mereka akan mengenalinya dan menganggapnya sebagai kebenaran.
George W. Bush mencari pembenaran untuk menggempur Irak dan menangkap Saddam Hussein pada 2003. Ia merekayasa adanya WMD (weapons of mass destruction), ’senjata penghancur massal’. Ternyata tidak ada WMD di Irak, tetapi Bush tetap melenggang tanpa konsekuensi hukum apa pun.
Trump menggambarkan Iran sebagai negara teroris yang berbahaya karena punya senjata nuklir. Iran menjadi penyebab utama kawasan Timur Tengah tidak stabil. Karena itu, Iran harus dihancurkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: