”Dunia berubah tiap bulan, rencana disusun lima tahunan. Di 2026, apakah renstra masih kompas atau justru beban langkah?”
AWAL TAHUN hampir selalu dimulai dengan niat baik dan semangat baru. Kalender masih bersih, energi masih penuh, dan kita kembali membuka dokumen rencana yang kemarin-kemarin sempat tertutup rapat. Dunia di luar sana sudah berlari, sedangkan di meja kita, renstra kembali dibaca pelan-pelan.
Bulan Januari memang identik dengan perencanaan. Rapat kembali ramai, slide kembali rapi, dan target lima tahunan kembali ditegaskan dengan wajah optimisme. Ada semacam keyakinan diam-diam: kalau arah sudah dipastikan di awal tahun, perjalanan ke depan terasa lebih aman.
BACA JUGA:Resolusi 2026, Mengkaji Kegagalan Kebijakan di Balik Bencana
BACA JUGA:Optimisme Ekonomi 2026, Pasar Kerja Harus Berubah
Masalahnya bukan pada niat. Masalahnya pada disrupsi dan kecepatan perubahan dunia yang sudah tidak lagi sabar menunggu rencana kita selesai dirapikan.
Perubahan sekarang datang tanpa permisi, menerjang bagai gelombang tsunami. Ia tidak menunggu organisasi siap atau tidak, tidak peduli apakah target sudah disahkan, dan sering muncul justru ketika organisasi sedang merasa paling rapi dan paling percaya diri dengan rencananya.
Di titik itulah pertanyaan kritis muncul. Apakah rencana lima tahunan masih masuk akal ketika realitas berubah setiap tahun, bahkan setiap beberapa bulan?
BACA JUGA:Mitigasi Gelombang Bencana Inkompetensi Kepemimpinan: Renungan Awal 2026
BACA JUGA:Tahun 2026, Menuju Kemandirian Fiskal di Bawah Bayangan Shadow Economy
Renstra tentu lahir dari kerja serius. Analisis disusun, diskusi panjang digelar, data dihimpun, dan harapan ditanamkan agar organisasi berjalan lebih terarah. Namun, sering kali, belum jauh periode berjalan, asumsi-asumsi di dalamnya sudah mulai goyah.
Banyak organisasi sebenarnya menyadari kondisi itu. Namun, renstra tetap dipertahankan apa adanya karena sudah menjadi kebiasaan. Mengubahnya terasa merepotkan, berisiko, dan kerap dianggap sebagai tanda ketidakkonsistenan.
Akhirnya kita menjalani dua dunia sekaligus. Di atas kertas, renstra tetap dijadikan pegangan. Di lapangan, keputusan diambil lewat penyesuaian-penyesuaian kecil dan improvisasi yang jarang dibicarakan secara terbuka.
BACA JUGA:Pesta Miras Sambut 2026 di Madiun, Remaja Tewas: Mabuk dan Pembunuhan
Di atas kertas, dokumen perencanaan tampak sehat, lengkap, dan rapi. Yang ngos-ngosan justru organisasinya.