2026: Dunia Berlari, Kita Masih Menyusun Renstra?

Rabu 07-01-2026,17:41 WIB
Oleh: Bagus Suminar*

Sekali lagi, gelombang disrupsi tidak menunggu. Ia terus bergerak, tak peduli kita siap atau tidak.

Renstra, pada akhirnya, bukan semata persoalan teknis perencanaan. Ia adalah soal cara berpikir tentang masa depan. Apakah kita memperlakukannya sebagai kompas atau justru sebagai aturan kaku yang membatasi ruang gerak.

Tulisan ini bukan ajakan untuk membuang renstra. Juga, bukan seruan agar organisasi berjalan tanpa kompas. Yang dibutuhkan justru keberanian untuk menempatkan renstra pada fungsinya yang paling masuk akal: penunjuk arah besar, bukan penentu setiap langkah.

Rencana tahunan (renop) perlu diberi ruang untuk benar-benar hidup. Bukan sekadar turunan administratif dari dokumen lima tahunan, melainkan juga arena utama untuk membaca perubahan, menguji asumsi, dan menyesuaikan langkah secara nyata. Di sanalah organisasi seharusnya belajar dari realitas –bergerak lebih lincah dan adaptif– bukan sekadar melaporkan kepatuhan.

Pada saat yang sama, rencana jangka panjang tetap penting sebagai penunjuk arah besar. Ia menjaga orientasi, nilai, dan tujuan ideal yang ingin dicapai, tanpa harus memerinci langkah terlalu jauh. 

Dalam kerangka itu, tidak semua organisasi harus mempertahankan renstra sebagai dokumen jangka menengah yang kaku; pada konteks tertentu, ia bisa disederhanakan, bahkan ditiadakan, tanpa kehilangan arah strategis.

Disiplin baru bukan lagi soal ketaatan mutlak pada dokumen lima tahunan. Ia bergeser menjadi kemampuan organisasi untuk belajar cepat, menyesuaikan diri secara sadar, dan berani mengakui ketika rencana perlu dikoreksi. Dunia bergerak lebih cepat daripada siklus manajemen, dan strategi yang sehat justru memberikan ruang bagi koreksi itu.

Jika dunia berlari, organisasi tidak perlu panik. Yang lebih penting adalah memastikan arah jangka panjang tetap jelas, sementara langkah-langkah tahunan cukup lentur untuk berubah. Terlalu lama duduk merapikan peta justru berisiko membuat kita kehilangan momentum.

Mungkin di 2026 ini, pertanyaannya bukan lagi apakah renstra harus selalu ada. Melainkan, apakah organisasi cukup berani memilih bentuk perencanaan yang paling relevan dengan ritme perubahannya.

Sebab, pada akhirnya, arah memang penting, tetapi kemampuan menyesuaikan langkahlah yang menentukan apakah organisasi benar-benar sampai pada cita-citanya. Stay relevant! (*)

*) Bagus Suminar adalah wakil ketua ICMI Jatim, anggota Tim Litbang Persyada Al Haromain.

 

Kategori :