Panggung kritik mulai agak redup di era Jokowi. Selama sepuluh tahun Jokowi dianggap sebagai representasi wong cilik yang masuk ke puncak kekuasaan tertinggi tanpa membawa beban dosa masa lalu.
Para tukang kritik relatif anteng. Mungkin ingin memberikan kesempatan kepada Jokowi untuk bekerja. Mungkin juga karena beberapa di antara mereka dapat jatah komisaris.
Era Jokowi seharusnya berakhir setelah sepuluh tahun. Ia seharusnya pensiun. Namun, ia punya skenario politik sendiri. Ia masih ingin tetap bertahan. Era sepuluh tahun Jokowi adalah era regresi demokrasi. Tukang kritik dipersekusi dan dipenjara. Tukang kritik –termasuk Butet– benar-benar mati di zaman Jokowi.
Kini era Prabowo. Semestinya menjadi era baru. Namun, bagi para tukang kritik, era sekarang ternyata sama saja dengan era sepuluh tahun Jokowi. Malah ada tanda-tanda kemerosotan demokrasi yang lebih serius ketimbang sebelumnya.
Pandji Pragiwaksono muncul sebagai genre baru tukang kritik Indonesia. Mungkin agak dini untuk menyejajarkan Pandji dengan Butet. Keduanya hidup dalam alam yang berbeda. Namun, keduanya sama-sama piawai dan cerdas dalam bermonolog. Butet melalui teater sampakan, Pandji melalui standup comedy.
Butet tajam dengan gaya pelesetan khas Yogyakarta. Pandji tajam dengan gaya selengekan khas milenial. Fanbase Butet adalah generasi ”kolonial” yang mapan. Sementara itu, Pandji bisa diterima di kalangan penonton Netflix generasi milenial dan generasi Z.
Pertunjukan Mens Rea Pandji merupakan pertunjukan komedi politik yang spektakular. Sangat mungkin Mens Rea memecahkan rekor sebagai pertunjukan standup comedy dengan jumlah audiens terbesar selama ini.
Sudah sangat lama kita tidak mendengar lawakan politik yang cerdas seperti gaya Pandji. Ia berani menyerempet bahaya. Ia mengolok-olok Raffi Ahmad yang dikaitkan dengan aktivitas cuci uang jenderal polisi yang dapat cuan Rp100 M dari bisnis narkoba.
Pandji juga mengolok-olok Gibran Rakabuming Raka yang disebutnya ”mengantuk”. Penonton –yang paham desas-desus mengenai keterlibatan Gibran dengan obat terlarang– tertawa terbahak-bahak saat mendengar sebutan mengantuk itu.
Sudah lama kita tidak mendengar lawakan politik yang tajam dan cerdas. Generasi kolonial dulu mendengar lawakan politik kritis dari grup lawak Warkop Prambors. Musikus Iwan Fals melakukan kritik sosial tajam melalui lagu.
Respons terhadap Mens Rea keras. Musikus Tompi menyerang Pandji setelah bertemu Gibran bersama Raffi Ahmad. Para buzzer di medsos beramai-ramai menyerang Pandji. Sekelompok anak muda yang menamakan diri Angkatan Muda NU dan Aliansi Muda Muhammadiyah melaporkan Pandji ke Bareskrim.
Pandji sudah pernah didenda Rp2 miliar serta memotong 96 ekor kerbau dan babi karena humornya mengenai masyarakat adat Toraja. Kali ini entah bagaimana nasib Pandji. Mudah-mudahan tukang kritik tidak mati di republik ini. (*)