SURABAYA, HARIAN DISWAY - Ledakan penduduk di Surabaya seperti tak terhindarkan. Selama tiga tahun berturut, jumlah pendidikan Surabaya bertambah sekitar 10 ribu per tahun.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Surabaya 2025 menunjukkan itu. Di 2025 jumlah penduduk Kota Pahlawan mencapai 2.931.611 orang. Sementara di 2024 jumlah penduduk masih di angka 2.921.996.
Di 2023, jumlah penduduk di Surabaya mencapai 2.911.433. Artinya dalam setahun, ada hampir 10 ribu orang bertambah di Surabaya.
Kondisi itu sekaligus memengaruhi tingkat kepadatan penduduk di Surabaya. Di 2025, kepadatan penduduk mencapai 9.196 jiwa per km². Naik sekitar 201 jiwa per km² dibandingkan tahun 2024.
BACA JUGA:36 Persen Penduduk Miskin di Jatim Belum Tersentuh Jaminan Kesehatan
BACA JUGA:BPS: Separuh Penduduk IKN Didominasi Generasi Z dan Milenial
Sementara jika dilihat data per kecamatan, Simokerto menjadi wilayah dengan kepadatan tertinggi. Yakni 35.271 jiwa per km². Di susul Sawahan dengan 27.648 jiwa/km² dan Tambaksari dengan 25.309 jiwa/km².
Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya Rio DH I Pattiselanno mengatakan, terus bertambahnya penduduk di Surabaya memang tak bisa dibendung. Sebab, sebagai kota metropolitan, Surabaya akan tetap menjadi magnet bagi pendatang. ”Surabaya akan tetap menjadi kota yang menarik minat banyak pendatang untuk mengadu nasib,” katanya.
Untuk menghadapi fenomena yang bakal terus berlangsung itu, Rio meminta Pemkot lebih sigap dalam proses administrasi kependudukan. Salah satunya lewat pemutakhiran data.
Misalnya orang tersebut tercatat sebagai warga Surabaya. Namun, mereka ternyata tidak tinggal di Surabaya. ”Ini harus dilakukan pemutakhiran. Termasuk pendatang yang masuk ke Surabaya,” jelasnya.
BACA JUGA:Penduduk Jawa Timur yang Hidup di Bawah Garis Kemiskinan Berkurang 17 Ribu Jiwa
BACA JUGA:315 Juta SIM Card Terdaftar di RI dari 280 Juta Penduduk, Pemerintah Lakukan Pemutakhiran Data
Rio juga meminta Pemkot untuk segera melakukan pemetaan wilayah di setiap kecamatan. Wilayah yang terlampau padat dan jadi jujukan pendatang, segera dilakukan perencanaan tata ruang. ”Untuk menghindari terbentuknya kawasan kumuh,” terangnya.
Terakhir, Rio berharap Pemkot segera melakukan penataan hunian. Salah di antaranya dengan memperbanyak rumah vertikal bersubsidi. Seperti rusunawa maupun rusunami. ”Agar penduduk Surabaya tetap mendapatkan hak untuk tinggal,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Eddy Christijanto mengatakan, hingga kini pihaknya belum bisa berkomentar terkait dengan data BPS tersebut.
”Kami menunggu data konsolidasi bersih di semester 2 tahun 2025. Yang dikeluarkan oleh Ditjen Dukcapil,” kata Eddy.
Eddy menyebut, Dispendukcapil punya data berbeda dengan BPS. Ini karena data update untuk kependudukan, akan langsung dikeluarkan oleh Ditjen Dukcapil. (*)