HARIAN DISWAY - Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan sebanyak 62 kasus super flu telah terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia.
Meski tingkat penularannya lebih tinggi, pemerintah menegaskan kondisi ini masih dalam kategori aman dan bukan ancaman pandemi seperti Covid-19.
Benjamin menyebut, dari total kasus yang terdeteksi, jumlah terbanyak berada di Provinsi Jawa Timur dengan 35 kasus.
BACA JUGA:62 Kasus Super Flu di Indonesia, Wamenkes Pastikan Masih Aman
BACA JUGA:BBKK Surabaya: Belum Ada Kasus Super Flu Terdeksi Dari Pintu Kedatangan Juanda
“Tercatat sekitar 62 kasus, dengan jumlah terbanyak berada di Provinsi Jawa Timur sebanyak 35 kasus,” kata Benjamin di Makassar, Selasa, 13 Januari 2026.
Ia menjelaskan, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena super flu merupakan flu musiman yang rutin muncul setiap tahun. Biasanya, puncak penularan terjadi pada Agustus hingga September.
“Namun, saat ini tren kasus sudah ada penurunan sejak Desember lalu. Ini hanya flu biasa, tetapi memang sedikit lebih infeksius. Namun tidak seperti Covid-19 yang berdampak berat dan luas,” ungkapnya.
BACA JUGA:Hadapi Ancaman Super Flu, Edy Wuryanto Minta Pemerintah Tidak Lengah
BACA JUGA:Waspada Super Flu Usai Nataru, Pemkot Surabaya Perketat Skrining Warga dari Luar Negeri
Meski lebih mudah menular, Benjamin memastikan super flu masih dapat ditangani dengan pengobatan yang tersedia.
Ia mengimbau masyarakat yang mengalami gejala flu berat untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
“Kalau ada super flu, obatnya ya ‘obat super flu’, bukan obat flu biasa. Tapi tetap harus sesuai petunjuk dokter atau tenaga medis,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan belum ada laporan kasus kematian akibat super flu.
“Belum ada yang dilaporkan meninggal karena, ini memang flu seperti yang biasa kita rasakan,” kata Budi di RSUP Dr Sardjito, Sleman, DIY, Kamis, 8 Januari 2026.