Platform Salam.life Tawarkan Ruang Digital Berbasis Nilai Muslim

Rabu 14-01-2026,13:47 WIB
Reporter : Tira Mada
Editor : Thoriq S Karim

HARIAN DISWAY - Belakangan ini, Salam.life, jejaring sosial Muslim resmi diluncurkan. Kehadirannya memunculkan berbagai pertanyaan pertanyaan.

Salah satunya, apakah umat Muslim memang membutuhkan media sosial “khusus”?. Utamanya, di tengah dominasi Facebook dan Instagram yang sudah mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan ini bukan baru. Sejak dua dekade lalu, gagasan membangun platform digital berbasis identitas dan nilai keagamaan sudah berulang kali dicoba.

Namun, belum ada satu pun yang benar-benar tumbuh menjadi platform global yang bertahan lama. Meski begitu, konteks hari ini tidak sepenuhnya sama dengan masa lalu.

BACA JUGA:Doomscrolling Media Sosial saat Tahun Baru Picu FOMO dan Overthinking


Ilustrasi.-freepik-

Secara demografis, jumlah umat Muslim dunia diperkirakan mendekati dua miliar jiwa atau sekitar seperempat populasi global. Mayoritas hidup di kawasan Asia-Pasifik, dari Turki hingga Asia Tenggara.

“Indonesia sendiri menyumbang sekitar 240 juta Muslim, terbesar di dunia,” kata Head of Communication Salam.life Yusuf Karim.

Fakta penting lainnya, ratusan juta Muslim hidup sebagai minoritas di negara non-Muslim. Pengalaman mereka beragama, bersosial, dan berinteraksi berlangsung dalam konteks yang sangat beragam.

Mulai bahasa, budaya, hingga norma publik yang berbeda. “Artinya, audiens Muslim global itu besar, majemuk, dan multibahasa,” kata Yusuf.

BACA JUGA:BNPT Temukan Pola Baru Radikalisasi Anak Melalui Media Sosial dan Game Online

BACA JUGA:Pentingnya Social Media Specialist di Era Digital

Di sinilah muncul ketegangan dengan media sosial arus utama. Facebook dan Instagram dirancang sebagai platform universal.

Kekuatan mereka terletak pada keterbukaan itu. Namun bagi komunitas berbasis nilai, universalisme sering kali menciptakan ruang yang terasa tidak sepenuhnya pas.

Interaksi akhirnya dalam grup tertutup, lingkar pertemanan sempit, atau mengikuti akun-akun tertentu. “Bukan dalam satu ruang bersama yang terkelola,” ujar Yusuf.

Kategori :