Konkretnya, sebagai SWF, Danantara memiliki fungsi menambah dan mengoptimalkan sumber penerimaan negara yang tidak hanya bergantung pada pajak. Optimalisasi aset negara dan BUMN yang sebelumnya ”tidur” alias pasif atau kurang produktif dikelola secara profesional agar menghasilkan profit.
Melalui tata kelola yang well-managed dan berintegritas akan memantik sentimen positif yang secara tidak langsung mengapresiasi nilai dividen BUMN meningkat lebih besar dan stabil.
Kedua, investasi berkelanjutan pada sektor strategis seperti hilirisasi industri, energi terbarukan, digital, kesehatan, dan infrastruktur.
Ketiga, menarik modal asing dan kemitraan global yang berkualitas.
Meski belum genap setahun berdiri, langkah Danantara telah menunjukkan geliat dengan menjalin hubungan kemitraan dengan beberapa pengelola kekayaan negara besar seperti Qatar Investment Authority untuk investasi di hilirisasi industri, energi bersih, dan kesehatan.
Kemudian, dengan China Investment Corporation dan Future Fund Australia menggarap proyek eksplorasi platform investasi ASEAN-China. Danantara juga terlibat dalam pengembangan pengelolaan sampah menjadi energi, hilirisasi nikel, serta investasi berkelanjutan.
Catatan itu penting agar refleksi jelang satu tahun memiliki konteks sejarah yang kuat. Dapat dipahami meskipun belum terlihat tanda-tanda menghasilkan return jangka pendek, minimal strategic road-map ke depan tersaji secara transparan sehingga para stakeholder mampu memahami ke mana Danantara melangkah.
Secara benchmarking, sebagaimana SWF di Eropa, seperti Norway Government Pension Fund Global (GPFG), pengelolaan investasi strategis melalui penempatan dana negara pada sektor bernilai ekonomis tinggi (energi, infrastruktur, hilirisasi, teknologi) akan menciptakan return jangka panjang.
Proyek strategis yang dibiayai melalui skema investasi tanpa melibatkan anggaran negara (APBN) cenderung memiliki resiliensi tinggi terhadap guncangan ekonomi.
GPFG dikenal dengan oil fund atau SWF terbesar di dunia yang bersumber dari hasil eksplorasi migas Laut Utara, menginvestasikan uang negara Norwegia secara terdiversifikasi di berbagai portofolio aset global untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang dan stabil.
Sebagaimana dalam laman resminya, sekitar 70–71 persen dari total aset GPFG ditempatkan di saham global ribuan perusahaan besar di berbagai negara dan sektor industri yang mencakup saham di perusahaan teknologi besar, konsumer, manufaktur, keuangan, dan lain-lain.
Lantas, 26–27 persen dari portofolionya dialokasikan ke fixed income, yaitu obligasi negara dan korporasi dari berbagai negara maju dan berkembang. Jenis portofolio itu memberikan jaminan return yang lebih stabil dan berperan sebagai penyangga terhadap volatilitas pasar saham.
Kemudian, sebagian kecil asetnya, 1,8–3 persen, dibenamkan di real estat global atau properti yang tidak tercatat di bursa. Properti tersebut meliputi gedung perkantoran kelas atas, pusat ritel, apartemen, dan properti komersial di kota-kota besar dunia seperti London, New York, dan Paris.
Terakhir, bagian yang lebih kecil lagi dari portofolio, 0,1–0,4 persen, digunakan untuk investasi infrastruktur energi terbarukan seperti proyek angin, surya, dan lainnya.
Meski tergolong kecil, investasi dalam portofolio proyek energi bersih di Eropa dan Amerika yang mendukung transisi energi menempatkan GPFG sebagai SWF paling disegani di dunia.
Danantara bisa belajar dari GPFG dan beberapa SWF kelas dunia lainnya bagaimana strategi me-leverage sumber daya finansial menjadi portofolio yang mampu menciptakan sustainable revenue guna menopang visi besar, yakni meraih pertumbuhan ekonomi 8 persen. Kita bisa! (*)