“Aset lahan milik pemprov itu sangat banyak dan tersebar di berbagai kota dan kabupaten. Banyak wali kota yang mengajukan KSO (Kerja Sama Operasi). Kalau ini dimaksimalkan, bisa menjadi sumber pendapatan baru dan tentu tidak membebani masyarakat,” kata Khofifah.
Peserta Retret 2026 di Badan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Provinsi Jawa Timur -Humas Pemprov Jawa Timur -
Selain aset, sektor perikanan juga dinilai memiliki potensi besar. Jawa Timur memiliki Grand Parent Stock (GPS) untuk jenis ikan tertentu.
Perangkat ini bisa dimaksimalkan untuk mendukung program nasional. Termasuk termasuk perluasan area budidaya ikan.
“Sebetulnya ada banyak cara mendapatkan sumber pendapatan baru. Hal-hal kecil di UPT bisa dimaksimalkan, kecuali UPT Dinsos dan PPA. Semua ini hanya bisa terjadi jika kita membangun perspektif yang inklusif dan open minded,” imbuhnyi.
Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur itu menekankan pelayanan publik oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) berjalan efektif dan efisien. Perizinan yang bisa diselesaikan cepat, harus segera diterbitkan.
BACA JUGA:Khofifah Jajal Bus TransJatim Koridor Gresik–Mojokerto, Ajak Warga Manfaatkan Angkutan Publik
“Saya pesankan UPT-UPT dikelola dengan baik agar span of control tidak terlalu jauh. Kerja kita adalah memberi layanan publik terbaik dan tidak membebani masyarakat,” ujarnyi.
Khofifah juga menekankan pentingnya perubahan mindset birokrasi, dari penghabis anggaran menjadi pencipta nilai, dari orientasi output ke outcome, serta dari rutinitas menuju pemenuhan kebutuhan riil masyarakat.
“Birokrasi harus menciptakan nilai dan dampak nyata, bukan sekadar menghabiskan anggaran. Ini perlu teladan dan kontrol sampai ke UPT agar kebijakan benar-benar efektif,” kata Khofifah.
Guru Besar ITS Surabaya Prof. Mohammad Nuh yang menjadi narasumber menekankan kekuatan kepemimpinan ditentukan figur dan kualitas para pengikutnya.
“Dalam organisasi, followers itu 80 persen dan leader hanya 20 persen. Pemimpin tidak cukup meng-upgrade diri sendiri, tapi juga orang-orang di sekitarnya. Leadership kuat lahir dari followership yang kuat,” katanya.
Dari sisi keuangan, Prof. Nuh menegaskan pentingnya sumber pendanaan di luar APBD sebagai penguat fiskal daerah. Pengelolaan BUMD pun perlu diarahkan tidak lagi sekadar mengejar pendapatan, melainkan berorientasi pada keuntungan.
“Harus ada sumber pendapatan lain di luar APBD agar APBD semakin kuat. BUMD juga harus mengubah mindset dari revenue oriented menjadi profit oriented. Yang dicari bukan sekadar pendapatan, tetapi keuntungan. Profitabilitas adalah kuncinya,” ucapnya. (*)