HARIAN DISWAY - Pada 2026, konten video yang dibuat atau dimanipulasi oleh kecerdasan buatan (deepfake dan generative AI) makin marak. Banyak ditemukan di berbagai platform media sosial. Seperti TikTok, YouTube, dan Instagram.
Teknologi itu tidak hanya mampu meniru wajah dan suara orang terkenal. Tapi juga bisa menghasilkan pidato, pernyataan, bahkan adegan yang tidak pernah terjadi di dunia nyata.
Salah satunya kasus video deepfake featuring tokoh publik. Itu menunjukkan bagaimana deepfake sudah menjadi fenomena global yang perlu diwaspadai.
Peningkatan itu berdampak besar terhadap cara publik mengonsumsi informasi digital. Laporan internasional menunjukkan hal yang mengkhawatirkan.
BACA JUGA:Hati-hati Gunakan Deepfake Bikini Grok AI, Elon Musk Ancam Konsekuensi
BACA JUGA:Penipuan Terorganisir Menggunakan Deepfake AI Meningkatkan Selama Tahun 2025
Bahwa penyebaran konten AI tanpa label atau verifikasi dapat mengikis kepercayaan masyarakat terhadap berita daring.
Juga dapat menimbulkan risiko besar bagi diskursus publik. Termasuk kemungkinan penyalahgunaan dalam kampanye politik ataupun penipuan online.
Memahami Apa Itu Deepfake dan Konten AI
Deepfake adalah teknologi kecerdasan buatan yang mampu menciptakan video atau audio palsu yang sangat meyakinkan sehingga dapat disalahgunakan untuk menipu, memeras, atau menyebarkan informasi palsu tanpa mudah dikenali oleh publik. --Freepik
Anda sudah tahu, deepfake adalah hasil manipulasi digital. Memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuat video, gambar, atau suara palsu yang tampak sangat realistis.
Deepfake pun dapat merekayasa hasil foto menggunakan algoritma pembelajaran mesin (ML). Khususnya jaringan generatif (GAN). Sistem di dalamnya menganalisis dan menyintesis ulang wajah atau suara orang. Sehingga seolah benar-benar nyata.
BACA JUGA:Disney+ Melunak, Bakal Izinkan Konten AI Pakai Karakter Resmi
BACA JUGA:Mengenal Deepfake sebagai Ancaman Digital dan Cara Mengidentifikasinya
Konten AI tidak terbatas pada video palsu saja. Tetapi bisa berupa hasil generatif lain. Seperti suara buatan, teks, hingga animasi yang memanfaatkan data sumber asli.
Teknologi itu membuka peluang kreatif baru. Tetapi berpotensi disalahgunakan. Membuat kemampuan mengenali konten palsu menjadi keterampilan penting di era digital.