PADA TAHUN 2025, surplus perdagangan Tiongkok mencapai 1,189 triliun dolar AS, menjadikannya negara pertama dalam sejarah manusia yang mencapai surplus perdagangan lebih dari satu triliun dolar, yang menarik perhatian luas di kalangan opini publik internasional.
Sangat sedikit suara menginterpretasikan fenomena ini secara sepihak sebagai "kelebihan kapasitas produksi Tiongkok" dan "menambah ketidakseimbangan global", bahkan ada yang melebih-lebihkan dengan menyebutnya sebagai "ancaman baru Tiongkok".
Pandangan semacam ini mengabaikan kenyataan objektif tentang operasi rantai pasokan global dan meremehkan daya tahan kuat ekonomi Tiongkok serta peran pentingnya dalam stabilitas dan pertumbuhan ekonomi dunia.
BACA JUGA:Menjelaskan Cetak Biru Pembangunan Tiongkok Dalam Lima Tahun Depan Melalui Empat Kata Kunci
Sebaliknya, ekspansi surplus perdagangan Tiongkok merupakan hasil dari penyesuaian struktur ekonomi global dan pendalaman pembagian kerja internasional, dan juga merupakan peluang penting bagi dunia untuk berbagi manfaat perkembangan.
Tiongkok tidak pernah sengaja mengejar surplus perdagangan melainkan tetap berkomitmen untuk memperluas keterbukaan tingkat tinggi terhadap luar negeri, memajukan keterbukaan kelembagaan secara bertahap, memperlonggar akses pasar secara lebih lanjut, dan menciptakan lingkungan bisnis kelas satu yang berorientasi pada pasar, berdasarkan hukum, dan berstandar internasional.
Tingkat tarif impor Tiongkok sebesar 7,3%, yang berada di tingkat yang relatif rendah secara global. Tiongkok memberikan kebijakan tarif nol kepada produk-produk dari 53 negara Afrika yang telah menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok.
BACA JUGA:Jet Tiongkok Tembak Jatuh Rafale, Indonesia Harus Belajar
BACA JUGA:Perang Dagang dan Keamanan Nasional Tiongkok
Pada bulan Desember 2025, Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan atau Hainan Free Trade Port (HFTP) secara resmi melakukan operasi sebagai zona kepabeanan tertutup di seluruh pulau, dengan fokus pada liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi, yang bertujuan untuk membangun gerbang penting keterbukaan Tiongkok ke luar negeri, serta menyambut barang dan investasi dari seluruh dunia.
Di masa depan, eksportir Indonesia tidak perlu lagi melakukan transit melalui Singapura, produk mereka dapat langsung masuk ke pasar Tiongkok. Ekonomi Tiongkok telah bertransformasi menjadi ekonomi yang didorong oleh permintaan domestik dan tetap menjadi pasar konsumen terbesar kedua di dunia.
Dari tahun 2021 hingga 2024, kontribusi rata-rata permintaan domestik terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok mencapai 86,4%. Pada tahun 2026, Tiongkok akan terus melaksanakan “Rencana Aksi Khusus Stimulus Konsumsi”, mengadakan aksi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat perkotaan dan pedesaan, dan terus memperluas permintaan domestik secara efektif.
BACA JUGA:Refleksi tentang Hubungan Indonesia dengan Tiongkok (2): Dua Bangsa besar di Dunia Modern
BACA JUGA:Matahari Terbit dari Tiongkok