Sebagai salah satu pasar konsumen dengan potensi terbesar di dunia, Tiongkok menyambut masuknya produk dan perusahaan dari mancanegara dengan sikap yang lebih terbuka, untuk berbagi peluang baru yang dibawa oleh transformasi dan peningkatan ekonomi Tiongkok.
Ekspor Tiongkok merupakan keuntungan global yang memberi manfaat bagi banyak negara dan rakyat. Kapasitas produksi Tiongkok tidak hanya menjadi "stabilisator" untuk mengendalikan inflasi global, tetapi juga "pemberi manfaat" untuk transformasi hijau global, dan "mitra" yang melayani pasar dunia.
Di sisi produksi, melalui "Tiga Produk Baru" (kendaraan listrik, baterai lithium, dan panel surya) dan kapasitas produksi berteknologi maju lainnya, Tiongkok menyediakan dasar material untuk pengelolaan iklim global dan transformasi hijau, memberikan titik acuan harga untuk perekonomian yang terpapar inflasi, dan memberikan tangga teknologi bagi negara-negara berkembang yang ingin modernisasi.
BACA JUGA:Budaya Membaca Buku di Tiongkok
BACA JUGA:Kemitraan Strategis Indonesia-Tiongkok
Di sisi pasar, Tiongkok membuka pasar domestiknya lebih luas melalui keterbukaan kelembagaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, memecah hambatan sektoral dan menarik lebih banyak investasi asing supaya memungkinkan perusahaan multinasional seperti Tesla, Apple, Panasonic dan perusahaan lainnya untuk dapat mendalami pasar Tiongkok, menyerap nutrisi inovasi dan memberikan manfaat balik terhadap ekonomi global.
Di sisi konsumsi, barang-barang kebutuhan sehari-hari Tiongkok yang berkualitas dengan harga terjangkau adalah jaminan penting bagi rakyat dari berbagai negara, terutama di negara maju, untuk mempertahankan tingkat hidup yang baik, serta memberikan peluang bagi kelompok berpenghasilan rendah untuk menikmati kehidupan berkualitas.
Kerja sama kapasitas produksi Tiongkok selalu berpegang pada prinsip saling menguntungkan dan menang bersama, berfokus pada kesesuaian dengan strategi pembangunan negara-negara mitra, mendorong produksi lokal dan kerja sama teknologi.
Itu tidak hanya meningkatkan keberlanjutan proyek, tetapi juga menciptakan peluang kerja dan kemampuan pengembangan jangka panjang bagi negara mitra. Model kerja sama ini diakui dan dipartisipasi oleh semakin banyak negara dan perusahaan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional Indonesia Bapak Luhut, baru-baru ini menyatakan, "Lebih dari 600 perusahaan Tiongkok yang investasi di Indonesia membuat kedua negara kita menikmati hasilnya dengan baik".
Bapak Luhut juga menunjukkan bahwa kontribusi Tiongkok sangat signifikan dalam bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, dan penelitian teknologi maka peran Tiongkok tidak bisa diabaikan dan tidak bisa dianggap sepele.
Beliau menekankan bahwa Indonesia dan Tiongkok telah membentuk mekanisme kerja sama jangka panjang dan stabil berdasarkan saling menghormati, saling menguntungkan dan menang bersama.
Surplus perdagangan Tiongkok yang melampaui satu triliun dolar bukan ancaman melainkan peluang. Dalam konteks tren perdagangan internasional yang semakin terfragmentasi, Tiongkok sedang membangun jaring simbiosis yang erat melalui operasi pabrik yang nyata, kapasitas pelabuhan yang besar, dan keterbukaan kebijakan.
Bagi berbagai negara di seluruh dunia, memahami dan memanfaatkan hubungan simbiosis ini mungkin merupakan satu-satunya jalan yang pasti menuju kemakmuran di masa depan.
Melihat ke masa depan, Tiongkok akan secara tegas terus-menerus berkomitmen untuk mendorong keterbukaan dan kerja sama, secara semakin mendalam dan luas berintegrasi dalam sistem ekonomi global, mendorong perkembangan bersama melalui kapasitas produksi yang saling menguntungkan dan hubungan simbiotik antara pasar masing-masing, serta bergandeng tangan dengan berbagai negara untuk bersama-sama menghadapi tantangan dan mendorong pembangunan ekonomi dunia yang terbuka, inklusif, stabil, dan berkelanjutan. (*)
Ye Su adalah konsul jenderal RRT di Surabaya.-Istimewa-