Dinkes Sidoarjo Ajak Warga Lebih Waspada DBD setelah Pasien Anak Meninggal Dunia

Minggu 01-02-2026,22:46 WIB
Reporter : Eko Setyawan
Editor : Indria Pramuhapsari

"Fogging efektif membunuh nyamuk dewasa, tapi tak menyentuh jentik di air. Pencegahan berkelanjutan hanya tercapai dari kesadaran masyarakat menjalankan 3M Plus secara mandiri," tegasnya.

DBD merupakan penyakit endemis di Indonesia. Kasusnya biasanya meningkat pada musim penghujan. Virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina itu menyerang semua kelompok usia.

BACA JUGA:Waspada! Tren Kasus DBD di Jatim Meningkat, Kadinekes: Fogging Bukan Solusi

BACA JUGA:Cegah Wabah Chikungunya dan DBD, Pemkot Surabaya Minta Warga Aktifkan PSN 3M Plus

Namun, anak-anak dan lansia memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi berat seperti syok dengue atau perdarahan internal.

Gejala awal yang perlu diwaspadai meliputi demam tinggi mendadak selama 2 hingga 7 hari, nyeri kepala hebat, mual, muntah, serta munculnya bintik merah pada kulit.

Dinkes Sidoarjo berupaya mengantisipasi tren peningkatan kasus DBD melalui kader kesehatan di tingkat RT/RW. "Masyarakat harus menjadi garda terdepan pencegahan," kata Lakhsmie.

Dia mengimbau warga untuk segera memeriksakan diri ke faskes terdekat jika mengalami gejala demam tinggi disertai tanda awal DBD. Sebab, semakin cepat terdeteksi, penanganannya juga semakin maksimal.

BACA JUGA:Wabah DBD di Indonesia Capai Angka Kematian Tertinggi se-ASEAN

BACA JUGA:Waspada terkena DBD, Ini 10 Makanan untuk Menaikkan Trombosit

Dengan kolaborasi aktif antara pemerintah dan kesadaran kolektif masyarakat, Lakhsmie berharap tidak akan ada lagi korban jiwa akibat DBD. Sekali lagi, menjaga kebersihan lingkungan masing-masing adalah langkah pertama yang paling penting. (*)

Kategori :