Tapi, itu saja tidak cukup. Perlu upaya terus-menerus untuk menjadikan mereka pengusaha yang berkualitas dan menghasilkan lapangan kerja. Tentu tidak hanya lapangan kerja. Tapi, lapangan kerja yang memberikan kecukupan dari mereka yang bekerja.
Selain mampu membuat lapangan kerja, pengusaha berkualitas jika mereka berkelanjutan. Yang tidak hit and run. Yang terus hidup dalam perubahan cepat. Tahan banting dan terus tumbuh dalam segala zaman. Pengusaha seperti itu ia sebut dengan bahasa agama sebagai berkah.
Dalam konteks itu, Uno mengajukan tiga pilar penting untuk menjadi pengusaha. Apa itu? Inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Ia menyebutnya rumus 3-Si. Pengusaha yang selalu melahirkan sesuatu yang baru, bisa menyesuaikan perkembangan zaman, dan terbuka untuk kerja sama dengan pihak lain.
Dari sanalah, inisiatif membuat Ruang Tumbuh pengusaha kecil menjadi sangat penting. Bagaimana mengembangkan mereka? Bagaimana membangun mindset baru untuk terus tumbuh kembang? Dan, bagaimana menaikkan kelas mereka dari kecil dan besar sehingga bisa menciptakan lapangan kerja.
Masalahnya, pengusaha kecil kita sulit berkembang karena mindset dan kompetensi dasar? Itulah yang juga perlu dikulik. Jangan-jangan masalahnya lebih ke persoalan struktural. Ekosistem yang membuat mereka sulit naik kelas. Ekosistem yang tak memberi mereka ruang untuk tumbuh kembang.
Mindset memang penting. Kerangka berpikir yang bisa menggerakkan orang untuk berbuat sesuatu. Orang akan melihat risiko sebagai ancaman jika mereka ber-mindset aman. Sebaliknya, orang yang ber-mindset tumbuh akan melihat risiko sebagai informasi.
Tentu, pengusaha butuh kerangka berpikir tumbuh. Orang yang tak hanya berpikir nyaman dan aman. Tapi, yang selalu ingin berkembang. Punya mimpi besar. Tentu bukan hanya mimpi sekadar mimpi. Melainkan, mimpi yang ingin terus diwujudkan. Mimpi yang harus jadi kenyataan.
Heppy Trenggono mengaku punya pengalaman dalam memprovokasi para pengusaha menjadi besar. Dimulai dari mimpi tadi. Didukung keberanian mengambil risiko yang terukur. Tidak takut jatuh dan punya utang. ”Pengusaha punya utang Rp2 miliar dan Rp20 miliar itu sama,” ujarnya.
Ia bisa bilang demikian karena punya pengalaman. Pengusaha yang pernah malang melintang bekerja di berbagai perusahaan besar itu pernah mengalamai masa sulit dan utang besar. Namun, ia berhasil bangkit dengan menata ulang strateginya hingga usahanya berkembang pesat.
Pemilik United Balimuda Group asal Batang, Jawa Tengah, itu sekarang memiliki kebun sawit puluhan ribu hektare. Dengan pengalamannya tersebut, ia aktif dalam dunia kewirausahaan. Dengan berbagi pengalaman dengan para pengusaha pemula.
”Hari ini saya sebetulnya saya masih jetlag karena baru tiba dari luar negeri,” ungkapnya.
Sayang, tak semua pengusaha kecil –apalagi supermikro– beruntung seperti Heppy. Lebih banyak dari mereka yang gagal naik kelas.
Saat ini pengusaha kecil kita ibarat sepeda yang melaju berdampingan dengan truk trailer di jalan raya. Ia berisiko besar terpepet dan terlindas. Pengusaha UMKM adalah pengendara sepeda. Sebaliknya, truk trailer adalah korporasi besar.
Perlu ada jalur khusus pesepeda agar mereka aman. Jalur khusus yang dibuat oleh pemerintah. Oleh negara. Dalam banyak studi, UMKM tumbuh cepat di negara dengan pasar domestik terproteksi secara cerdas. Juga, pembiayaan berbasis ekosistem dan punya koperasi serta kluster industri yang kuat.
Karena itu, Ruang Tumbuh tak bisa berjalan sendiri. Ia bisa mengubah mindset dan kompetensi pengusaha kecil untuk besar. Tapi, tanpa bergandengan tangan dengan pemerintah yang bisa menciptakan jalur khusus bagi pesepeda, upayanya tak akan berdampak besar.
Indonesia darurat pengusaha harus diikuti komitmen negara dalam membuat ruang bagi mereka agar mempunyai jalur khusus bebas hambatan. Jika tidak, justru akan makin banyak pengusaha kecil yang sudah ber-mindset benar masuk unit gawat darurat.