Jumhur Hidayat, Musuh Jokowi yang Dirangkul Prabowo
ILUSTRASI Musuh Jokowi Dirangkul Prabowo.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
ADA APA Jumhur Hidayat masuk istana? Apalagi, menempati pos menteri lingkungan hidup (LH). Pos yang menjadi musuh pengusaha ”hitam”.
Menteri LH memang tak sementereng menteri keuangan (menkeu) atau menteri dalam negeri (mendagri). Bahkan, kadang dilupakan publik, siapa menterinya. Selain itu, urusan lingkungan hidup acap kali digabung dengan kementerian lain. Pernah satu atap dengan kehutanan. Bahkan, pernah gabung dengan urusan kependudukan.
Kini lingkungan hidup berdiri sendiri. Sejatinya, kalau kementerian itu bekerja dengan ”normal”, ia bisa mengontrol semua pemain bisnis ekstraktif.
Sederhananya, menjadi pengawas pertambangan, sawit, pengusaha yang mengekspoloitasi sumber alam, hingga pabrik yang mencemarkan lingkungan. Kalau menterinya bekerja baik, akan meminimalkan bencana karena hutan gundul atau pertambangan yang merusak lingkungan.
BACA JUGA:Matinya Hukum Lingkungan Hidup
BACA JUGA:Raja Ampat, Surga yang Hilang: Refleksi Hari Lingkungan Hidup
Dulu kita pernah punya Emil Salim di pos tersebut. Tapi, di era itu, belum seterbuka sekarang sehingga tak terlalu banyak yang diingat publik. Kini pos itu ditempati Jumhur Hidayat yang dikenal sebagai aktivis sejak mahasiswa di ITB.
Aura aktivis Jumhur terasa banget saat pelantikan. Ia diantar Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan. Tidak perlu dijelaskan siapa Rocky Gerung.
”Saya hadir mewakili masyarakat sipil. Mengantar bekas napi yang menjadi menteri,” cerita Rocky.
Jumhur memang pernah merasakan penjara dua kali. Saat mahasiswa karena menolak Menteri Rudini di ITB. Kali kedua, era Jokowi dengan sangkaan menyebar berita bohong. Namun, Rocky memuji Jumhur sebagai intelektual yang paham buruh, demokrasi, hingga lingkungan hidup.
Rekam jejak Jumhur diakomodasi di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tapi musuh pemerintah paling depan di zaman Jokowi.
SBY mengangkatnya sebagai kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia. Kerjanya, mengurus TKI di luar negeri.
Jumhur menempati pos itu karena latar belakangnya sebagai aktivis buruh. Tapi, poin penting di pos tersebut karena ia ikut ”berkeringat” juga memenangkan SBY menjadi presiden pada 2014.
Di era Jokowi, ia di luar pagar istana. Menjadi orang paling vokal mengkritik Jokowi. Jumhur menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: