BAHAGIA itu milik semua. Sebab, setiap diri memang berhak untuk bahagia. Tak terkecuali guru agama. Tata kelola yang makin baik dan tingkat kesejahteraan yang makin meningkat adalah di antara faktornya. Dari ibu kota Jakarta, kabar kebijakan pemantik rasa bahagia itu deras menyapa.
Begini bunyinya: ”Kami pastikan bahwa perbaikan tata kelola dan kesejahteraan guru agama dan madrasah terus dilakukan dan diperjuangkan. Selama ini yang sudah berjalan seperti kenaikan TPG (tunjangan profesi guru) dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta.
Selain itu, akselerasi sertifikasi guru agama dan madrasah juga mengalami kenaikan tajam pada 2025 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.” Kabar itu datang dari Sekjen Kementerian Agama RI Kamaruddin, Minggu, 1 Februari 2026.
BACA JUGA:Kemenag Serius Benahi Tata Kelola dan Kesejahteraan Guru Agama-Madrasah
BACA JUGA:Guru… oh… Guru
Mendengar kabar itu, aku pun lalu teringat syair yang dilantunkan Ahmad Syauqi. Penyair Mesir yang dijuluki amirusy syu’ara’ (suhunya para penyair) itu mengatakan begini dalam salah satu syairnya: kada al-mu’allim an yakuna rasula.
”Guru itu hampir setara dengan rasul,” begitu terjemahannya. Maknanya, begitu mulianya posisi guru di mata semua orang. Hingga hampir disetarakan dengan posisi rasul.
Kata kada (hampir) berarti bersyarat. Pesan kata dimaksud mengindikasikan penyetaraan bersyarat. Apa artinya? Tetap saja tak akan menyamai posisi rasul. Hanya, kata kada itu menunjukkan begitu mulianya guru di mata siapa pun.
BACA JUGA:Membumihanguskan Imajinasi Kemuliaan Guru
BACA JUGA:Guru sebagai Arsitek Peradaban
Sebab, tugas dan fungsinya bisa mewakili rasul dalam menyampaikan ajaran kebajikan. Pasalnya, anak manusia tak akan mampu untuk menjadi baik dan berdaya begitu saja dan tiba-tiba jika tak ada wasilah atau perantara yang menjadi saluran sampainya kebajikan dan kemuliaan itu.
Karena itu, memuliakan guru pasti menjadi perhatian setiap bagian dari umat manusia. Di mana pun berada dan kapan pun saja. Tak perlu dikomando. Tak perlu diarah-arahkan. Otomatis saja panggilan untuk memuliakan guru itu merebak. Tak pernah lekang oleh waktu. Tak pernah terbatas oleh garis kewilayahan.
Sebab, semua sadar bahwa anak-anak mereka tak akan tiba-tiba menjadi cakap. Tak akan tiba-tiba menjadi terampil. Semua pasti membutuhkan kehadiran guru.
BACA JUGA:Fenomena Perceraian di Kalangan Guru: SK Diterima, Suami Dilepas
BACA JUGA:Memuliakan Kehidupan Guru