Hari Valentine 14 Februari, Ini Makna dan Sejarah Singkatnya

Jumat 06-02-2026,10:32 WIB
Reporter : Elizabeth Natasya*
Editor : Indria Pramuhapsari

HARIAN DISWAY - Hari Valentine yang diperingati setiap 14 Februari disepakati sebagai hari kasih sayang di berbagai belahan dunia. Perayaan ini menjadi momen untuk mengekspresikan cinta dan perhatian.

Namun, di balik itu ada sejarah panjang dan evolusi yang mendasari lahirnya hari kasih sayang. Ada akar budaya Romawi Kuno, sentuhan Kristiani, dan gagasan para seniman dan sastrawan abad pertengahan.

Sebelum identik dengan tradisi bertukar cokelat, bunga, dan ucapan romantis, Hari Valentine atau Valentine Day adalah ritual yang sifatnya sangat lokal.

Seiring berjalannya waktu, ritual berselaras dengan zaman. Nilainya pun berubah sehingga lebih bisa diterima banyak orang.

BACA JUGA:Relation-Sipping, Tren Kencan Santai Gen Z yang Makin Ngetren Jelang Valentine

BACA JUGA:Catat! Ini 5 Ide Hadiah Valentine Sederhana tapi Berkesan


BUNGA masih menjadi cara yang paling umum untuk menyampaikan kasih sayang dan perhatian. -Gary Barnes-Pexels

Sejarah Hari Valentine

Hari Valentine diyakini bermula dari kebiasaan masyarakat Romawi Kuno pada pertengahan Februari. Mereka merayakan Lupercalia, festival fertilitas yang ritualnya sangat primitif dan melibatkan unsur-unsur kejantanan.

Setelah masuk ajaran Kristen, festival tersebut berubah makna. Bentuk ritualnya juga menjadi tidak sama karena ada nilai-nilai Kristiani yang diserap. 

Nama Valentine sendiri diambil dari sosok Santo Valentinus (yang dalam bahasa lain juga dikenal sebagai Santo Valentino), rohaniwan yang hidup pada abad ke-3 di Roma. Dalam berbagai versi cerita, ia dikenal sebagai penentang larangan Kaisar Claudius II soal pernikahan anak muda.

Valentinus (Valentino) tetap menikahkan pasangan muda kendati harus menghadapi risiko tinggi. Pilihannya itu memang lantas mengantarkannya pada penangkapan dan hukuman mati.

BACA JUGA:Ingin Valentine Berkesan Tanpa Menguras Kantong? Begini Cara Merayakannya!

BACA JUGA:Unik! Begini Budaya Valentine di Korea Selatan


PATUNG St Valentinus alias St Valentino di Terni, Umbria, Italia.--italymagazine

Legenda menyebutkan, sebelum dieksekusi, Valentinus (Valentino) sempat menulis pesan perpisahan kepada putri kepala penjara yang pernah ia tolong. Pesan itu ditutup dengan “from your Valentine”, yang kemudian identik dengan ucapan pada perayaan ini.

Untuk mengenang jasanya, Gereja Katolik menetapkan 14 Februari sebagai hari peringatan Santo Valentinus (Santo Valentino).

Seiring berjalannya waktu, terutama pada abad pertengahan di Eropa, tanggal ini mulai diasosiasikan dengan cinta romantis dan akhirnya berkembang menjadi Hari Valentine seperti yang dikenal sekarang.

Dari rangkaian kisah tersebut, Hari Valentine tidak hanya lahir sebagai perayaan romantis, tetapi juga membawa nilai pengorbanan, keberanian, dan ketulusan.

BACA JUGA:Jomblo di Hari Valentine? Ini Cara Menikmatinya Tanpa Galau!

BACA JUGA:Kisah Tragis di Balik Sejarah Hari Valentine

Sejarah panjang inilah yang kemudian memberi makna lebih dalam pada Valentine, bukan sekadar tentang hadiah dan ucapan manis, melainkan tentang mengekspresikan kasih sayang dalam berbagai bentuk.


KASIH SAYANG tidak terbatas pada pasangan saja, tapi juga pada sahabat dan teman.--freepik

Makna Hari Valentine

Di era sekarang, Hari Valentine tidak lagi dimaknai  sempit sebagai perayaan cinta romantis semata. Maknanya berkembang menjadi momentum untuk merayakan kasih sayang dalam arti yang lebih luas dan inklusif.

Bagi banyak orang, Valentine menjadi kesempatan untuk menunjukkan perhatian kepada keluarga, sahabat, hingga diri sendiri.

Konsep mencintai diri sendiri pun kian menguat, ditandai dengan pilihan merayakan hari ini melalui aktivitas yang memberi rasa bahagia dan nyaman secara personal.

BACA JUGA:5 Ide Makan Malam Valentine 2026 di Rumah dengan Budget 100 Ribu

BACA JUGA:5 Destinasi Wisata Romantis untuk Rayakan Valentine

Tak sedikit pula yang memaknai Valentine sebagai ajakan berbagi kepedulian. Berbagai aksi sosial, donasi, dan kegiatan kemanusiaan dilakukan sebagai wujud kasih sayang yang tidak terbatas pada hubungan personal, tetapi juga kepada masyarakat luas.

Kemajuan teknologi turut memengaruhi cara Valentine dirayakan. Media sosial dan platform digital membuka ruang baru untuk berinteraksi. Mulai dari pertukaran pesan, kencan virtual, dan pengiriman hadiah secara daring.

Meski begitu, di tengah arus komersialisasi yang kian kuat, sebagian orang memilih kembali pada esensi Valentine yang sederhana. Fokusnya bukan pada kemewahan, melainkan pada kebersamaan, perhatian tulus, dan makna hubungan itu sendiri

Hari Valentine bukan sekadar perayaan tahunan yang identik dengan hadiah dan simbol romantis. Di balik sejarah panjangnya, Valentine menjadi pengingat akan pentingnya kasih sayang, kepedulian, dan ketulusan.

BACA JUGA:Kopi atau Cokelat? Minuman Terbaik untuk Meningkatkan Mood di Hari Valentine

BACA JUGA:10 Rekomendasi Film Romantis Hari Valentine

Bagaimana pun cara merayakannya, esensi Valentine tetap sama yakni memberi makna pada hubungan, baik dengan orang lain maupun dengan diri sendiri. (*)

*) Mahasiswa Magang dari Prodi Ilmu Komunikasi, UNTAG.

Kategori :