Valentine Day 14 Februari 2026: Ngerayain Cinta atau Ngerayain Validasi?

Valentine Day 14 Februari 2026: Ngerayain Cinta atau Ngerayain Validasi?

Bukan cuma pasangan yang dirayain, tapi juga likes, komentar, dan validasi digital-Milan Markovic-iStockphoto.com

HARIAN DISWAY - Tanggal 14 Februari selalu menghadirkan komparasi. Apalagi, di era media sosial seperti sekarang. Timeline mendadak berubah jadi etalase buket bunga, candle light dinner, dan video surprise yang sinematik.

Lantas, bagaimana dengan tidak upload apa-apa? Apakah absen dari linimasa auto dianggap “enggak merayakan" Valentine Day? Atau, malah lebih buruk dari itu, "enggak dirayakan”.

Hari ini, Valentine Day bukan cuma soal rasa. Ia sudah menjelma jadi tontonan. Dirayakan bukan hanya oleh pasangan, tapi juga oleh algoritma. Likes naik, views bertambah, komentar berdatangan.

Yang menjadi pertanyaan, kita sedang merayakan cinta, atau sedang mengejar validasi?

BACA JUGA:Hari Valentine 14 Februari, Ini Makna dan Sejarah Singkatnya

BACA JUGA:Unik! Begini Budaya Valentine di Korea Selatan

Kini, 14 Februari tak lagi sekadar momen privat. Ia berubah jadi konsumsi publik. Rasa diukur dari seberapa ramai kolom komentar. Kasih sayang dihitung dari jumlah likes. Bahkan romantis pun seperti punya standar visual.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih dalam kita benar-benar merayakan cinta, atau sedang merayakan validasi? Apakah Valentine Day masih tentang perasaan dua orang, atau sudah tentang penonton yang tak terlihat?

Di sinilah fenomena ini menarik dibedah. Bukan hanya soal hubungan, tapi soal budaya digital yang pelan-pelan menggeser makna kasih sayang itu sendiri.

Valentine hari ini tak lagi berdiri di ruang yang sunyi. Ia hidup di layar, notifikasi, dan FYP. Setiap tahun, 14 Februari seperti punya standar baru. Buket harus lebih besar, kejutan harus lebih kreatif, makan malam harus lebih estetik. Bukan karena cinta berubah. Tapi karena panggungnya berubah.


KADO VALENTINE menghiasi linimasa berbagai platform media sosial hari ini. Perayaan kasih sayang atau flexing?-Antoni Shkraba studio-Pexels

BACA JUGA:Jomblo di Hari Valentine? Ini Cara Menikmatinya Tanpa Galau!

BACA JUGA:Ingin Valentine Berkesan Tanpa Menguras Kantong? Begini Cara Merayakannya!

Media sosial membuat momen personal menjadi tontonan masal. Dulu, kado cukup disimpan dalam kenangan. Kini, kado seperti belum sah jika belum diunggah.

Buket bunga tak lagi sekadar simbol perhatian, tapi juga simbol "effort". Makin megah, makin dianggap serius. Makin viral, makin dianggap berhasil.

Di sinilah validasi mulai mengambil peran. Likes dan komentar menjadi semacam tepuk tangan digital. "So sweet banget!", "Couple goals!", "Kapan ya kayak gini?"

Kalimat-kalimat itu bukan cuma pujian. Ia membentuk standar. Tanpa sadar, banyak yang akhirnya merayakan Valentine bukan karena ingin, tapi karena merasa perlu.

BACA JUGA:5 Game Ini Cocok Dimainkan Bersama Pasangan Saat Hari Valentine

BACA JUGA:Galentine Day Makin Populer! Simak Perbedaannya dengan Valentine Day

FOMO pun ikut bermain. Tak ingin terlihat tertinggal. Tak ingin jadi satu-satunya yang tak punya cerita pada 14 Februari.

Bahkan yang jomblo pun ikut merayakan entah dengan self-reward, makan enak sendiri, atau membuat konten self-love. Semua tetap ingin terlibat. Semua tetap ingin terlihat.

Fenomena ini menunjukkan satu hal yakni cinta di era digital tak hanya dirasakan, tapi juga dipresentasikan. Ada dorongan untuk membuktikan bahwa hubungan kita bahagia, bahwa kita dicintai, bahwa kita "layak dipamerkan".

Padahal, cinta sejati tak butuh saksi. Tidak semua perhatian harus difoto. Tidak semua kejutan harus direkam. Namun, di tengah arus algoritma, batas antara tulus dan tampil kadang menjadi kabur.


VALENTINE VACATION menjadi salah satu pengisi linimasa yang menuai banyak likes dan komentar pada 14 Februari ini.-Tran Long-Pexels

BACA JUGA:Tren Valentine 2026, Perayaan Lebih Personal dengan Hadiah Pengalaman dan Makna Emosional

BACA JUGA:6 Cara Merayakan Valentine Tanpa Persiapan Rumit, Tapi Tetap Bermakna

Valentine Day mungkin tetap tentang kasih sayang. Namun, di era ini, ia juga tentang eksistensi. Tentang bagaimana rasa diolah menjadi konten. Tentang bagaimana momen intim berubah jadi konsumsi publik.

Pada akhirnya, Valentine Day tak pernah salah. Yang berubah hanyalah cara kita memaknainya. Di tengah riuh buket dan banjir story romantis, mungkin yang perlu dijaga bukan seberapa terlihat bahagia, melainkan seberapa tulus kita merayakannya (*)

*Mahasiswa Magang dari Prodi Ilmu Komunikasi, UNTAG.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: diolah dari berbagai sumber