Kenyataannya, surat kabar masih ada sampai sekarang meski kondisinya memprihatinkan. Bisnis media cetak terpukul akibat menurunnya jumlah pembaca, anjloknya perolehan iklan, dan melambungnya harga kertas. Beberapa media cetak besar di Indonesia telah menghentikan penerbitan versi cetaknya dan beralih ke format digital.
Mayoritas pelanggan koran cetak adalah institusi pemerintah dan institusi formal lain, perusahaan swasta, lembaga laba maupun nirlaba, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas. Sebagian lagi adalah pembaca yang masih menjaga tradisi koran dan romantisme membaca halaman kertas.
Saat ini, ketika dunia makin digital, ternyata muncul fenomena kebangkitan kembali budaya analog yang mulai berkembang. Kebangkitan budaya analog menunjukkan bahwa masih ada nilai dalam sesuatu yang bersifat fisik. Dari vinil, mainan, hingga fotografi cetak, keinginan untuk memiliki benda nyata tetap ada.
Di era layanan streaming dan playlist digital, banyak generasi Z yang ramai-ramai mengunjungi toko piringan hitam, tertarik pada pengalaman untuk merasakan keaslian vinil.
Hal itu membawa harapan akan bertahannya media cetak atau bahkan diharapkan menjadi pertanda kebangkitan kembali media cetak. Print media bisa menjadi artefak budaya yang menjawab kebutuhan akan keaslian dan rasa nostalgia. Minat terhadap fotografi analog bangkit lagi dengan munculnya jenis film seluloid baru, sebuah medium rekam untuk kamera analog.
Perkembangan di negara Skandinivia memberikan harapan akan kembalinya budaya analog. Pemerintah Swedia memutuskan untuk mengubah sistem pendidikan dengan kembali menggunakan buku-buku cetak sebagai media pembelajaran.
Setelah 15 tahun sistem pendidikan di Swedia menggunakan perangkat digital, akhirnya kembali ke analog cetak. Pendidik menyadari bahwa siswa kesulitan untuk berkonsentrasi dan mengingat informasi saat menggunakan layar digital ketimbang dengan metode pembelajaran berbasis buku cetak.
Generasi baru pembaca buku cetak itu bisa menjadi pionir pembaca koran cetak di masa depan. Fenomena tersebut akan banyak diikuti negara-negara lain di seluruh dunia. Sebab, selama ini Swedia dikenal sebagai negara dengan kualitas pendidikan tertinggi di dunia.
Eksistensi media cetak masa depan tidak bisa lepas dari inovasi teknologi. Teknologi seperti augmented reality, QR code, dan pencetakan personalisasi adalah contoh bagaimana media cetak beradaptasi dengan era digital, mengaburkan batas antara dunia fisik dan virtual. Dengan aplikasi realitas virtual, konsumen kini bisa mengubah media cetak menjadi gambar bergerak.
Media harus bisa menjawab pertanyaan what it means to me. Memenuhi kebutuhan dan memberikan solusi dan relevansi, seperti teori ”Uses and Gratification”.
Surat kabar menyajikan kedalaman dan reportase yang eksklusif untuk menjadi acuan pengambilan keputusan oleh pemangku kepentingan. Panduan Bill Kovack dan Tom Rosentiel dalam The Element of Jurnanalism (2004), loyalitas utama jurnalisme, yakni pada kepentingan warga, harus tetap menjadi pegangan.
Tentu ini belum cukup menjadi alasan bahwa media akan survive dan revived, ’bertahan dan bangkit di masa depan’. Namun, setidaknya hal itu menjadi the light at the end of the tunnel, ’sinar di ujung gelap terowongan’. (*)