Ajak Masyarakat Rawat Alam, Pemkab Trenggalek Rilis Hasil Inventarisasi Biodiversitas

Rabu 11-02-2026,14:46 WIB
Reporter : Indria Pramuhapsari
Editor : Indria Pramuhapsari

HARIAN DISWAY — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek memperkuat komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui inventarisasi keanekaragaman hayati (kehati). Hasilnya adalah buku Biodiversitas Trenggalek 2025

Bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), Pemkab Trenggalek menggelar bedah buku di Amphitheater Hutan Kota (Huko) Gunung Jaas pada Senin, 9 Februari 2026. Kegiatan tersebut dihadiri jajaran kepala OPD, pengelola kawasan penelitian, komunitas, perwakilan masyarakat, serta media.

"Pendataan biodiversitas penting agar masyarakat memahami ketergantungan manusia terhadap alam," ungkap Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin. Publikasi buku tersebut menjadi sarana edukasi sekaligus fondasi kebijakan konservasi untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

Politikus PDIP yang akrab disapa Mas Ipin itu mengatakan bahwa manusia harus menyadari ketergantungannya kepada alam supaya ikut mencegah kerusakan ekosistem dan menghindari eksploitasi yang tidak terkendali.

BACA JUGA:Soroti Keadilan Ekologis, Mas Ipin Sebut Masa Depan Bumi adalah Tanggung Jawab Bangsa

BACA JUGA:Tempatkan Rumah Ikan dan Sebar Benih Kerapu Macan di Pantai Joketro, Bupati Mas Ipin Dukung Konservasi Laut

Buku setebal 139 halaman tersebut menampung inventarisasi kehati dari empat lokasi. Yakni, Mangrove Cengkrong, Hutan Kota Trenggalek, Perkebunan Dilem Wilis, dan jalur pendakian Botoputih. Dalam pendataan yang berlangsung pada Oktober 2025 itu, tim mencatat tumbuhan, burung, kupu-kupu, herpetofauna, dan mamalia.

Mas Ipin bangga atas terbitnya buku tersebut. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan agar informasi kehati tidak disalahgunakan.

“Di satu sisi saya bangga, di sisi lain ada rasa khawatir. Jangan sampai publikasi ini justru memicu perburuan satwa,” ujar Mas Ipin pada Selasa, 10 Februari 2026. 

Menurutnya, inventarisasi biodiversitas berperan strategis sebagai sarana edukasi publik sekaligus upaya menjaga keseimbangan ekosistem. Ia menekankan bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada keberlanjutan alam.

BACA JUGA:DPC PDIP Trenggalek Ajak Profesional dalam Kepengurusan Demi Perkuat Pengabdian

BACA JUGA:Wakil Ketua DPRD Jatim Salurkan Alat Bantu Disabilitas untuk Warga Trenggalek

“Kita hidup tergantung pada alam. Udara yang kita hirup, air yang kita konsumsi, semuanya bersumber dari alam. Kalau rantai makanan terputus, satwa bisa masuk permukiman dan mengganggu kehidupan manusia,” jelasnya.

Sebagai daerah agraris, Trenggalek juga sangat bergantung pada penyerbuk alami seperti kupu-kupu, burung, dan kelelawar. Diperkirakan 70–75 persen proses penyerbukan tanaman masih mengandalkan satwa tersebut. Proses penyerbukan itu berdampak langsung pada hasil panen masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Mas Ipin yang juga ketua DPC PDIP Trenggalek itu menekankan pentingnya menyiapkan “guardian” atau penjaga konservasi melalui edukasi publik berkelanjutan.

Ia mengapresiasi peran penulis buku, Akhmad David Kurnia Putra, polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur yang juga pemenang Festival Gagasan Lan Aksi (Galaksi) 2025. Penulis juga aktif memberikan edukasi ke sekolah-sekolah.

BACA JUGA:Siap Siaga Bencana, DPRD Trenggalek Prioritaskan Perbaikan Infrastruktur pada 2026

BACA JUGA:Ketua DPRD Trenggalek Larang Guru Intimidasi Siswa SMAN 1 Kampak Pascademo

“Harapannya masyarakat sadar pentingnya menjaga flora dan fauna agar tidak diburu atau diperjualbelikan,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut inventarisasi, Pemkab Trenggalek merencanakan pembangunan Biodiversity Park di kawasan hutan kota dengan konsep aviary raksasa. Konsep ini memungkinkan satwa hidup lebih alami tanpa kandang sempit, sekaligus menjadi ruang edukasi dan wisata ramah lingkungan dalam pengembangan kota atraktif.

Sementara itu, Kepala BBKSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan mengapresiasi langkah Trenggalek sebagai kabupaten pertama di Jawa Timur yang menyusun dokumen kehati sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati.

Ia menilai pembangunan berbasis pelestarian alam merupakan arah yang tepat. Selain potensi ekologis, Trenggalek juga dinilai memiliki peluang ekonomi berbasis kehati. Salah satunya, Lola Merah yang merupakan jenis siput bercangkang menarik.

BACA JUGA:5 Alasan Hutan Biodiversitas Sangat Penting bagi Kehidupan

BACA JUGA:Tanggal 28 Juli 2025 Memperingati Hari Konservasi Alam Sedunia, Simak Sejarah Singkatnya

Trenggalek juga berpotensi menjadi pusat atraksi pengamatan satwa liar di hutan kota. “Ruang alam Trenggalek luar biasa. Kalau adu pembangunan fisik mungkin kalah, tetapi ketika orang mencari ketenangan dan alam, Trenggalek punya kekuatan itu,” ujarnya.

Dalam pemaparan isi buku, Akhmad David menyebut Trenggalek memiliki potensi biodiversitas tinggi. Di Hutan Kota Trenggalek saja tercatat 43 jenis burung, jumlah yang melampaui beberapa kawasan hutan kota di kota besar Indonesia.

Kegiatan ditutup dengan penyerahan buku Biodiversitas Trenggalek 2025 kepada Mas Ipin sebagai simbol selesainya program Galaksi 2025, disertai cendera mata foto Burung Walik Kepala Ungu dan infografis potensi kehati Trenggalek.

Pemkab Trenggalek bersama BBKSDA Jawa Timur pun mengajak masyarakat menjaga habitat flora dan fauna dengan memperhatikan penutup lahan, tempat berlindung, serta ketersediaan air agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga. (*)

BACA JUGA:DPD PDIP Jatim Serentak Merawat Pertiwi dalam Rangkaian HUT ke-79 Megawati Soekarnoputri

BACA JUGA:Anugerah Patriot Jawi Wetan II 2024: Tiga Pilar Desa Sidobandung Dampingi Mahasiswa Tanam Pohon

Kategori :