Upaya Indonesia Mengontrol Harga Nikel Global: Dalam Sehari, Harga Meroket

Jumat 13-02-2026,15:09 WIB
Reporter : Edi Susilo
Editor : Doan Widhiandono

Isu pemangkasan produksi nikel Indonesia membuat harga nikel global terkerek naik. Langkah tes pasar Indonesia ini dinilai sebagai upaya strategis mengontrol standar harga nikel dunia di tengah permintaan yang terus menguat. 

PASAR nikel global kembali bergejolak awal Februari. Kali ini, pemicunya bukan berasal dari London atau Shanghai. Melainkan di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta. 

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan telah menetapkan angka Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel periode 2026 awal pekan ini. Pemerintah melalui ESDM sepakat bahwa produksi nikel 2026 cukup di angka 260-270 juta ton saja. 

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno, mengatakan bahwa kuota produksi nikel tahun ini berada dalam rentang tersebut. “In between range-nya itu,” kata Tri di kantor Ditjen Minerba kepada media, Rabu, 11 Februari 2026. 

BACA JUGA:Ditjen AHU Segera Dipolisikan PT Bososi Terkait Tambang Nikel di Sultra

BACA JUGA:OC Kaligis Desak Bareskrim Usut Tambang Nikel Ilegal dan Bela PT Wana Kencana Mineral

Rancangan pagu produksi itu menyusut hingga 30 persen jika dibandingkan tahun 2025. Kala itu, realisasi produksi nikel Indonesia menyentuh angka 379 juta ton.

Selisih produksi hingga 100 juta ton sepertinya telah sengaja disusun oleh pemerintah. Lantaran melihat perdagangan harga nikel global sepanjang 2025 masih terbilang murah akibat oversupply. 

Dan pengumuman pembatasan produksi nikel Indonesia dalam RKAB langsung direspons pasar global. Berdasar data London Metal Exchange (LME) per Rabu, 11 Februari 2026, harga nikel kontrak tiga bulan meroket ke level USD 18.065 per metrik ton.

Angka itu mencerminkan kenaikan hampir 3 persen hanya dalam waktu 24 jam. Jika ditarik sedikit ke belakang, kenaikan itu tampak seperti anomali. Mengingat sepanjang 2025 harga nikel menurut LME sempat tertahan di kisaran USD 14.000 per metrik ton akibat banjir pasokan.


BIJIH NIKEL diambil sebelum ditaruhdi truk-truk pengangkut , September 2025.-Daeng Mansur-AFP-

Putusan pembatasan produksi itu sebaliknya memukul beberapa perusahaan pertambangan nikel yang beroperasi di tanah air.

Eramet, perusahaan pertambangan asal Prancis merasakan dampak langsung pemotongan kuota produksi itu. Eramet, yang mengoperasikan tambang nikel di wilayah Maluku lewat PT Weda Bay bersama mitra Tiongkok, Tsingshan, mengakui bahwa terjadi pemangkasan signifikan produksi nikel Weda Bay oleh pemerintah tahun ini. 

Di 2026, PT Weda Bay hanya mendapat kuota 12 juta ton produksi biji nikel. Padahal, kemampuan perusahaan tahun lalu, telah memproduksi nikel hingga 42 juta ton. ”Volume RKAB yang disetujui untuk 2026 telah dipangkas secara substansial dibandingkan dengan tingkat produksi 2025," tulis manajemen Eramet yang ditulis Reuters, Rabu, 11 Februari 2026. 

Pengumuman Eramet itu sempat direspons langsung oleh pasar. Saham Eramet di bursa Paris sempat mengalami fluktuasi. Investor menghitung potensi kehilangan pendapatan dari salah satu aset paling menguntungkan milik perusahaan tersebut di Asia.

Kategori :