Jelang Imlek, Dupa Jadi Buruan! Tradisi Sakral yang Tak Pernah Hilang

Minggu 15-02-2026,23:59 WIB
Reporter : Akmelia Rabbani
Editor : Indria Pramuhapsari

HARIAN DISWAY — Nuansa Tahun Baru Imlek sudah sangat terasa di kawasan pecinan berbagai kota di Indonesia. Toko perlengkapan sembahyang dipadati pembeli. Sebagian besar dari mereka mencari dupa. 

Tradisi membakar dupa menjelang dan saat Imlek menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual masyarakat Tionghoa. Bakar dupa adalah simbol doa, penghormatan leluhur, dan harapan di tahun yang baru.

Perayaan Imlek sendiri merupakan momen penting dalam budaya Tionghoa yang dirayakan berdasarkan kalender lunar. Tahun Baru Imlek identik dengan sembahyang di rumah maupun di kelenteng.

Tradisi lainnya adalah berkumpul bersama keluarga, serta memanjatkan doa untuk kesehatan, rezeki, dan keselamatan. Dalam rangkaian ritual tersebut, dupa menjadi elemen utama yang hampir selalu digunakan.

BACA JUGA:5 Kue yang Wajib Ada Saat Imlek dan Maknanya di Tahun Kuda Api

BACA JUGA:Cara Membuat Kue Ku (Ang Ku Kueh) Lembut dan Kenyal Untuk Sajian Imlek 2026

Makna Dupa dalam Tradisi Imlek


DUPA dipercaya sebagai medium penyampai doa kepada Tian (Tuhan) dan arwah leluhur--pexels

Dalam tradisi Tionghoa, dupa dipercaya sebagai medium penyampai doa kepada Tian (Tuhan) dan arwah leluhur. Asap dupa yang membumbung ke atas melambangkan harapan dan permohonan yang naik menuju langit. 

Selain itu, aroma harum dari dupa diyakini membawa ketenangan dan kesucian dalam prosesi sembahyang.

Menurut penjelasan dari Britannica, penggunaan dupa dalam budaya Tiongkok telah berlangsung sejak ribuan tahun lalu dan erat kaitannya dengan praktik keagamaan seperti Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. 

Dalam konteks Imlek, pembakaran dupa biasanya dilakukan saat sembahyang malam tahun baru (chuxi) dan hari pertama tahun baru sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur serta doa pembuka tahun.

BACA JUGA:Imlek 2026: Tradisi, Makna Angpao, hingga Harapan Tahun Baru

BACA JUGA:Perilaku Digital Warnai Imlek Zaman Now: Kirim Angpao Online, Checkout Bingkisan via Promo

Di Indonesia, tradisi ini juga dijalankan di berbagai kelenteng. Salah satunya di Vihara Dharma Bhakti yang setiap tahunnya dipadati umat menjelang pergantian tahun Imlek. Ribuan batang dupa dinyalakan secara bersamaan, menciptakan suasana sakral dan penuh kekhidmatan.

Permintaan Dupa Meningkat Jelang Imlek

Fenomena meningkatnya permintaan dupa menjelang Imlek bukan hal baru. Sejumlah pedagang perlengkapan ibadah Tionghoa mengaku mengalami lonjakan penjualan beberapa pekan sebelum hari raya. 

Dupa dibeli dalam berbagai ukuran, mulai dari batang kecil untuk sembahyang harian hingga dupa besar berwarna merah yang biasa digunakan di kelenteng.

Data dari laporan Kantor Berita Antara dalam beberapa tahun terakhir menyebutkan bahwa penjualan perlengkapan Imlek, termasuk dupa dan lilin merah, cenderung naik signifikan menjelang perayaan.

BACA JUGA:7 Ide Hampers Imlek 2026 Tahun Kuda Api, Harga Mulai Rp100 Ribuan

BACA JUGA:Jelang Imlek 2026, Singkirkan 7 Benda Pembawa Sial Ini dari Rumah, Agar Energi Baik Datang

Hal ini menunjukkan bahwa meski zaman terus berubah, tradisi sembahyang dengan dupa tetap dipertahankan dari generasi ke generasi.

Selain faktor religius, ada pula unsur budaya dan identitas yang melekat. Bagi sebagian keluarga Tionghoa, menyalakan dupa saat Imlek bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur dan warisan budaya.

Tradisi yang Tetap Relevan di Era Modern


PROSESI IMLEK bukan hanya soal kemeriahan barongsai dan angpao, tetapi juga momen refleksi spiritual--pexels

Di tengah modernisasi dan gaya hidup serba digital, tradisi membakar dupa saat Imlek tetap bertahan. Bahkan generasi muda kini mulai memahami kembali makna filosofis di balik setiap ritual, termasuk penggunaan dupa sebagai simbol doa dan introspeksi diri.

Perayaan Imlek bukan hanya soal kemeriahan barongsai dan angpao, tetapi juga momen refleksi spiritual. Dupa menjadi pengingat bahwa di balik pesta dan perayaan, ada nilai penghormatan, rasa syukur, serta harapan untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.

BACA JUGA:Semarakkan Imlek, Pemkot Buka Kawasan Kya-Kya Surabaya Selama Tiga Hari

BACA JUGA:Rayakan Imlek, Persebaya Rilis Jersey Keempat Bertema Kuda Api

Dengan demikian, meningkatnya permintaan dupa menjelang Imlek bukan sekadar fenomena musiman, melainkan cerminan kuatnya tradisi dan spiritualitas yang terus hidup dalam masyarakat Tionghoa, termasuk di Indonesia.

Kategori :