Masih pada tahun itu, seorang anak berusia delapan tahun didiagnosis kanker paru-paru. Dokter secara langsung menyalahkan polusi. Kasus itu mengguncang publik.
Tekanan menguat.
Partai Komunis Tiongkok merilis rencana aksi sepuluh poin. Mereka mendeklarasikan “perang melawan polusi”. Untuk pertama kalinya, target kuantitatif perbaikan kualitas udara ditetapkan dengan batas waktu jelas untuk wilayah-wilayah tertentu.
Pemantauan kemudian diperluas. Teknologi pabrik ditingkatkan. Tambang dan pembangkit batu bara ditutup atau dipindah. Di kota-kota besar, pembatasan kendaraan diperketat. Fondasi elektrifikasi diletakkan.
BACA JUGA:Bubur Laba, Menu Tradisional Tiongkok yang Mengawali Rangkaian Imlek
BACA JUGA:Kebijakan Anyar Tiongkok Tingkatkan Keamanan Mobil: Tak Boleh Lagi Gagang Tersembunyi
Tonny Xie, Direktur Bluetech Clean Air Alliance, yang bekerja sama dengan pemerintah dalam penyusunan rencana tersebut, menyebut penetapan target sebagai langkah terpenting. “Saat itu banyak perdebatan apakah target ini bisa dicapai. Sebab, targetnya memang sangat-sangat ambisius,” ujarnya.
Wilayah-wilayah prioritas mencatat penurunan cepat PM2.5 antara 2013 hingga 2017. Setelah itu pendekatan diperluas secara nasional. Xie menyebut capaian itu sebagai “keajaiban yang diraih di Tiongkok”.
AQLI bahkan menyatakan musim panas lalu bahwa keberhasilan Tiongkok sangat berkontribusi pada penurunan polusi global sejak 2014. Klaim itu menegaskan skala dampak negeri berpenduduk 1,4 miliar tersebut.
Namun perang belum selesai.
Musim dingin ini, sejumlah kota Tiongkok, termasuk Shanghai, kerap masuk 20 besar kota paling tercemar di dunia versi situs pemantau IQAir. Standar Organisasi Kesehatan Dunia untuk PM2.5 adalah lima mikrogram per meter kubik. Sementara definisi “baik” versi Tiongkok masih di bawah 35 mikrogram.
Data resmi 2025 menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 nasional turun 4,4 persen dibanding tahun sebelumnya. Sebanyak 88 persen hari dikategorikan memiliki kualitas udara “baik”.
Tiongkok pun berencana memperketat standar “baik” menjadi 25 mikrogram per meter kubik pada 2035.
Linda Li, pelatih lari yang pernah tinggal di Beijing dan Shanghai, merasakan perbaikan kualitas udara itu. Namun dalam bulan yang tergolong baik, ia masih kehilangan hingga tujuh hari latihan karena polusi.
Dalam lima tahun terakhir, laju penurunan polusi melambat. “Buah yang rendah sudah habis dipetik,” kata Chengcheng Qiu dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA). Itu adalah kiasan bahwa langkah-langkah mudah sudah dilakukan. Sisanya bakal lebih rumit dan mahal.
Riset Qiu menunjukkan polusi bergeser ke wilayah barat seiring relokasi industri berat ke daerah seperti Xinjiang. Beberapa kota bahkan mencatat kenaikan dua digit persentase PM2.5 dalam lima tahun terakhir.