Sekitar dua dekade silam, Tiongkok dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas udara terburuk di dunia. Sekarang, semuanya berubah. Kebijakan energi bersih membuat udara Negeri Panda itu begitu sehat.
AWAL Februari 2026 itu, pagi di tepi sungai Liangma, Beijing, begitu cerah. Langit tak lagi kelabu. Lansia berjemur. Anak-anak bersepeda. Para pensiunan berolahraga ringan.
Lima belas tahun lalu, pemandangan seperti ini sulit dibayangkan. Musim dingin identik dengan kabut asap. Orang memilih tinggal di rumah. Udara menyesakkan dada.
Perubahan itu bukan kebetulan. Ia lahir dari kampanye panjang yang mengerahkan kekuatan negara. Pabrik dipindah. Pembangkit batu bara ditutup atau direlokasi. Kendaraan dibatasi. Elektrifikasi didorong masif. Pemerintah menyebutnya sebagai “perang melawan polusi”.
“Dulu sangat buruk,” kata Zhao, 83, yang pagi itu duduk menikmati matahari bersama teman-temannya. “Kalau ada smog, saya tidak keluar rumah,” ucapnya.
Kini, menurutnya, udara terasa “sangat segar”.
BACA JUGA:Sambut Imlek Tahun Kuda Api di Kelenteng Sam Poo Kong, Konjen Tiongkok Ye Su Bikin Shufa
BACA JUGA:’’Bar Jamu’’ Ala Tiongkok, Obat Stres Anak Muda: Merusak Diri Sendiri, Tapi Tetap Menyehatkan
Data resmi pemerintah kota Beijing yang dirilis Januari lalu menunjukkan kadar PM2.5—partikel halus yang bisa masuk ke paru-paru dan aliran darah—turun 69,8 persen sejak 2013. Secara nasional, polusi partikel turun 41 persen dalam satu dekade sejak 2014. Indeks Kualitas Udara dan Harapan Hidup (AQLI) dari University of Chicago mencatat, perbaikan itu berkontribusi pada kenaikan harapan hidup rata-rata 1,8 tahun.
Angka-angka itu penting. Sebab pada dekade 2000-an, kualitas udara Tiongkok memburuk drastis. Pertumbuhan ekonomi melesat. Batu bara menjadi tulang punggung energi. Musim dingin memperparah situasi. Udara dingin menahan polutan di dekat permukaan tanah. Kota-kota besar berubah kelabu.
Berbagai upaya pernah dilakukan. Teknologi desulfurisasi dipasang di pembangkit listrik batu bara. Pabrik ditutup sementara. Lalu lintas dibatasi menjelang ajang besar seperti Olimpiade 2008. Namun dampaknya singkat. Setelah pesta usai, polusi kembali.
Kesadaran publik melonjak setelah Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beijing memublikasikan data pemantauan kualitas udara. Warga membandingkan angka resmi dengan data independen. Diskusi merebak di media sosial.
PERBANDINGAN udara dii sekitar Kota Terlarang pada 2015 (atas) dan 8 Februari 2026. Udara jauh lebih bersih.-GREG BAKER and PEDROO PARDO-AFP-
Pada 2013, beberapa sekolah internasional memasang kubah tiup raksasa di fasilitas olahraga untuk melindungi siswa dari udara kotor. Di tahun yang sama, kabut tebal menyelimuti banyak kota. Oktober 2013, kota Harbin di timur laut lumpuh berhari-hari. Kadar PM2.5 mencapai 40 kali lipat standar yang saat itu direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia.
Kalimat “Saya menggenggam tanganmu, tetapi tak bisa melihat wajahmu” viral di internet. Sebuah ironi yang getir.