SEJAK pengujung tahun lalu hingga memuncak pada bulan Februari ini, langit Surabaya seolah tak henti menurunkan hujan lebat. Di titik-titik langganan, dari kawasan barat hingga timur, genangan air atau yang secara jujur patut disebut sebagai banjir, selalu rutin menyapa.
Siklus basah yang membentang berbulan-bulan ini seharusnya menjadi peringatan hidrologis yang cukup, tetapi justru secara gamblang menelanjangi ketidakmampuan pemerintah kota dalam melakukan antisipasi dan mitigasi bencana.
Realitas di jalanan menunjukkan bahwa genangan air tidak lagi memilih lokasi. Di wilayah Surabaya Barat, kawasan seperti Wiyung, Lontar, Sambikerep, hingga Tandes kembali harus berdamai dengan air bah. Imbasnya tidak berhenti pada rusaknya properti warga, tetapi juga melumpuhkan total mobilitas ekonomi akibat kemacetan lalu lintas yang mengular panjang.
BACA JUGA:Solidaritas Arek Suroboyo, Mitra Gojek Dukung Apel Damai Jogo Suroboyo
BACA JUGA:Profil dan Kekayaan Setyo Budiyanto: Arek Suroboyo yang Terpilih Jadi Ketua Baru KPK
Pemandangan serupa tersaji di wilayah selatan dan pusat, mulai Ketintang, Gayungsari, hingga ruas jalan protokol Mayjen Sungkono yang kerap berubah wujud menjadi aliran sungai dadakan.
Volume kendaraan yang menumpuk saat jam sibuk akhirnya terjebak dalam simpul kemacetan parah, mengubah waktu tempuh yang biasanya hanya belasan menit menjadi siksaan berjam-jam di atas kendaraan.
Bergeser ke kawasan timur, area padat penduduk seperti Rungkut, Gunung Anyar, dan Medokan Ayu pun tidak luput dari kepungan air dan antrean kendaraan yang nyaris tak bergerak.
BACA JUGA:Rumah Kelahiran Bung Karno dan Perjuangan Meluruskan Sejarah: Soekarno Arek Suroboyo!
BACA JUGA:Parade Juang Surabaya 2024: Drama Kolosal Kenang Heroisme Arek Suroboyo
Ironisnya, di tengah kegagalan infrastruktur yang berulang setiap tahun tersebut, terdapat fenomena kultural yang patut diamati secara saksama. Jika pada dekade sebelumnya air yang meluap ke jalanan dan masuk ke ruang tamu memicu amarah serta protes keras warga di balai kota, kini respons masyarakat kota terasa jauh lebih santai dan berjarak.
Beranda media sosial justru dipenuhi dengan dark jokes. Banyak bermunculan video pendek yang mengestetikakan genangan air di kawasan elite barat dengan latar lagu melankolis hingga guyonan bapak-bapak di warung kopi pinggiran yang menjadikan mesin motor mogok sebagai bahan tertawaan.
Ke mana perginya semangat ”wani” khas arek-arek Suroboyo? Mengapa dalam menghadapi kelambanan birokrasi menangani masalah ekologis yang masif, warga Kota Pahlawan ini tiba-tiba menjadi sangat nrimo alias pasrah?
BACA JUGA:Dukung Risma di Pilgub Jatim, Eri: Pilih Emak’e Arek-arek Suroboyo
BACA JUGA:Gambarkan Perjuangan Arek Suroboyo, Teatrikal Perobekan Bendera Siap Digelar Pada 22 September 2024