Dalam konteks perlambatan ekonomi global dan pelemahan permintaan eksternal, peran Danantara menjadi krusial sebagai counter-cyclical investment vehicle. Artinya, ketika sektor swasta cenderung menahan ekspansi akibat ketidakpastian global, negara justru dapat tampil sebagai investor of last resort.
Investasi yang digerakkan Danantara berpotensi menjaga denyut pertumbuhan ekonomi domestik sekaligus memperkuat daya beli masyarakat melalui penciptaan pendapatan dan penyerapan tenaga kerja dalam skala besar.
Di sinilah relevansi pemikiran Joseph Stiglitz menjadi signifikan. Stiglitz, peraih Nobel Ekonomi dalam karyanya, The Price of Inequality, secara konsisten mengkritik dogma pasar bebas yang menafikan peran negara.
Dalam pandangannya, pasar tidak pernah sempurna dan kerap gagal mengalokasikan sumber daya secara efisien, terutama di negara berkembang. Karena itu, negara harus hadir secara aktif, bukan sebagai penghambat pasar, melainkan sebagai market shaper.
Danantara, dalam kerangka ini, dapat dipahami sebagai instrumen negara untuk membentuk arah pasar, mengurangi kegagalan pasar (market failure), serta memastikan bahwa akumulasi modal nasional tidak hanya terkonsentrasi, tetapi juga produktif dan inklusif.
Sementara itu, KMP berpotensi menjadi mesin penggerak ekonomi dari sisi permintaan. Lemahnya daya beli masyarakat, khususnya di perdesaan, selama ini menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dengan hampir 40 persen penduduk miskin bekerja di sektor pertanian dan tinggal di desa, penguatan ekonomi perdesaan bukan sekadar agenda sosial, melainkan strategi makroekonomi.
KMP memungkinkan terjadinya konsolidasi produksi, distribusi, pembiayaan, dan konsumsi di tingkat akar rumput, sebuah mekanisme yang selama ini tercerai-berai dan tidak terintegrasi.
Dari perspektif Stiglitz, koperasi dan institusi ekonomi berbasis komunitas memiliki keunggulan struktural karena mampu mengurangi asimetri informasi, memperpendek rantai distribusi, serta menekan biaya transaksi.
Ketika petani, nelayan, dan pelaku usaha mikro memiliki akses terhadap pembiayaan murah, pasar yang lebih pasti, dan kelembagaan yang kuat, mereka sangat berpotensi mendongkrak pertumbuhan pendapatannya.
Peningkatan pendapatan itu secara langsung memperkuat daya beli domestik, komponen yang menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sinergi antara Danantara dan KMP membuka ruang bagi terbentuknya virtuous cycle pertumbuhan ekonomi. Investasi besar yang digerakkan negara melalui Danantara dapat mengalir ke sektor-sektor produktif yang terhubung langsung dengan basis ekonomi rakyat.
Di sisi lain, KMP memastikan bahwa hasil pertumbuhan tidak berhenti di level makro, tetapi menetes dan berputar di tingkat mikro. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terdorong dari sisi penawaran (supply-driven growth), tetapi juga diperkuat oleh konsumsi domestik yang sehat dan berkelanjutan.
Dalam kerangka ini, legitimasi ekonomi Danantara dan KMP tidak semata bertumpu pada ideologi kapitalisme negara, tetapi pada kebutuhan objektif Indonesia untuk mengaktifkan potensi ekonomi besar yang selama ini terpendam.
Ketika pasar global melemah dan ketergantungan eksternal makin berisiko, penguatan ekonomi domestik melalui peran aktif negara menjadi bukan hanya pilihan kebijakan, melainkan keniscayaan sejarah. (*)
*) Sukarijanto, pemerhati Kebijakan Publik dan Peneliti di Institute of Global Research for Economics, Enterpreneurship & Leadership dan kandidat doktor di School of Leadership, Fakultas Pascasarjana, Universitas Airlangga.