Purbaya dan Pieter Gontha

Purbaya dan Pieter Gontha

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengeklaim kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih berada dalam kondisi terjaga. --Fajar Ilman

”KOMUNIKASI kamu jelek banget.” Teguran Pieter Gontha kepada Purbaya itu mengungkap ironi besar: fiskal Indonesia mungkin cukup kuat, tetapi negara justru kalah menjelaskan dirinya sendiri kepada publik.

Pada konferensi pers 19 Mei 2026, Purbaya Yudhi Sadewa juga bercerita bahwa ia pernah didatangi Pieter Gontha. Kisah itu awalnya terdengar sederhana, bahkan seperti selingan santai di tengah pembahasan APBN yang penuh angka. 

Namun, justru dari cerita kecil itulah terlihat sesuatu yang jauh lebih besar: bagaimana ekonomi modern tidak hanya ditentukan oleh fundamental fiskal, tetapi juga oleh kekuatan narasi.

Pieter Gontha bukan sosok sembarangan. Ia dikenal sebagai pengusaha senior Indonesia, pendiri jaringan maskapai, pelaku industri hiburan, diplomat, sekaligus figur publik yang lama berkecimpung di dunia bisnis internasional. 

BACA JUGA:Rupiah Tembus Rp17.500 per USD, Purbaya: Nggak Perlu Panik, Nggak Sejelek 98!

BACA JUGA:Rupiah Jeblok ke Rp 17.300, Menkeu Purbaya: Fondasi Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Sebagai mantan duta besar Indonesia untuk Polandia dan pelaku bisnis lintas sektor, Gontha merepresentasikan kelas elite bisnis yang terbiasa membaca sinyal ekonomi secara cepat dan pragmatis. 

Karena itu, ketika sosok seperti Pieter Gontha datang dengan nada skeptis kepada Purbaya, peristiwa tersebut menjadi simbol penting tentang jurang antara realitas ekonomi negara dan persepsi publik elite ekonomi sendiri.

Purbaya menceritakan bahwa Pieter Gontha datang sambil mencecarnya dengan berbagai pertanyaan:

”Lu gimana ngatur fiskal lu begini begini begini?”

Nada pertanyaan itu penting dibaca secara kritis. Ia menunjukkan bahwa bahkan di kalangan elite bisnis sendiri telah berkembang kecemasan bahwa fiskal Indonesia sedang bermasalah. Persepsi tentang tekanan rupiah, keluarnya dana asing, dan kekhawatiran utang negara tampaknya telah membentuk semacam economic anxiety di ruang publik. 

BACA JUGA:Menkeu Purbaya Copot Dua Dirjen Kemenkeu, Tiga Jabatan Strategis Kini Kosong

BACA JUGA:RI Tolak Pinjaman Bank Dunia Rp514 Triliun, Purbaya: Fiskal Masih Kuat

Dalam bahasa Robert J. Shiller, situasi seperti itu disebut sebagai narrative epidemic: penyebaran cerita ekonomi yang viral dan memengaruhi perilaku ekonomi masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: