Purbaya dan Pieter Gontha
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengeklaim kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih berada dalam kondisi terjaga. --Fajar Ilman
Shiller menjelaskan bahwa ekonomi tidak bergerak hanya oleh data objektif, tetapi juga oleh cerita yang dipercaya publik. Cerita itu bisa menyebar layaknya virus: dari media, percakapan elite, media sosial, hingga rumor pasar. Bahkan, ketika fundamental ekonomi cukup kuat, narasi ketakutan tetap dapat menciptakan kepanikan ekonomi.
Di sinilah cerita Purbaya menjadi menarik.
Menanggapi pertanyaan Pieter Gontha, Purbaya tidak membela diri secara emosional. Ia justru memaparkan data satu per satu: penerimaan pajak tumbuh belasan persen, keseimbangan primer surplus, rasio pembayaran bunga utang Indonesia dinilai aman oleh S&P, hingga cadangan fiskal melalui SAL mencapai lebih dari Rp430 triliun.
Yang menarik bukan hanya datanya, melainkan juga reaksi Pieter Gontha setelah mendengar penjelasan tersebut. Menurut Purbaya, Pieter Gontha justru tertegun. Ia, menurut Purbaya, ”terdiam”.
BACA JUGA:Harga Plastik Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Purbaya: Belum Ada Permintaan Relaksasi
BACA JUGA:Purbaya Ngaku Baru Tahu soal Motor Listrik BGN: Telanjur Jalan, Tahun Ini Nggak Ada Lagi
Momen itu sesungguhnya sangat simbolis.
Seorang pengusaha senior yang setiap hari hidup di tengah arus informasi ekonomi ternyata mengaku tidak pernah mendengar narasi positif semacam itu sebelumnya. Artinya, masalah terbesar pemerintah mungkin bukan semata ekonomi itu sendiri, melainkan kegagalan komunikasi ekonomi negara.
Di titik itulah Pieter Gontha melontarkan kritik yang sangat tajam kepada Purbaya:
”Kamu komunikasi jelek banget.”
Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki implikasi besar. Kritik tersebut memperlihatkan bahwa negara mungkin berhasil mengelola fiskal, tetapi gagal mengelola narasi. Pemerintah memiliki data, tetapi kalah dalam distribusi persepsi.
Dalam perspektif narrative economics, kegagalan negara bukan selalu kegagalan kebijakan, melainkan kegagalan membuat cerita ekonomi yang cukup kuat untuk dipercaya publik.
BACA JUGA:Defisit APBN Bulan Maret Mencapai Rp240 Triliun, Purbaya: Itu Hal Wajar
BACA JUGA:BBM Subsidi Aman Sampai Akhir Tahun, Purbaya Siapkan “Tameng” Hadapi Lonjakan Harga Minyak
Robert Shiller menulis bahwa narasi ekonomi bekerja seperti epidemi. Cerita yang emosional, sederhana, dan mudah diulang akan jauh lebih cepat menyebar daripada laporan teknokratik yang penuh angka. Sebab itulah, rumor krisis sering lebih viral daripada data stabilitas fiskal. Ketakutan jauh lebih mudah dijual daripada kehati-hatian statistik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: