Trump Mau Apa sih?

Jumat 20-02-2026,05:33 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte*
Editor : Yusuf Ridho

Pertama, CIA (Amerika Serikat). Mereka sadar perang militer itu mahal. Jadi, mereka main kasar di urusan human intelligence. Menggalang manusia. Memanfaatkan kondisi ekonomi Iran yang sedang sulit, CIA bermanuver di ruang siber. 

Mereka menyebar video rekrutmen. Targetnya: perwira militer Iran yang gajinya pas-pasan dan kecewa kepada rezim. Dijanjikan duit dan masa depan cerah. Trump menjadikan operasi senyap CIA itu sebagai alat gertakan. ”Tuh, anak buahmu sudah mau membelot ke saya.”

Kedua, Mossad (Israel). Bagi Israel, Iran yang punya nuklir itu ibarat kiamat yang tinggal menunggu kalender. Mereka tak mau menunggu Trump selesai main mata dan potong pita. Intelijen Israel kini mengerahkan senjata siber kelas berat. 

Namanya zero-click. Itu sihir digital. Bisa meretas HP atau komputer jenderal Iran tanpa perlu ada tautan (link) yang diklik. Tahu-tahu data sudah tersedot.

Target Mossad: pemetaan untuk sabotase total. Celakanya, manuver grusa-grusu Mossad itu bisa menjadi bumerang. Kalau Israel nekat meledakkan fasilitas nuklir Iran, skenario ”gunting pita” sang bos Trump bisa hancur berantakan.

Ketiga, Iran. Teheran sudah ganti taktik. Mereka tidak lagi pakai cara lama. Mereka meluncurkan taktik baru: doktrin ulu hati.

Iran sadar betul, kalau adu tembak pesawat tempur, mereka pasti kalah. Maka, yang dibidik adalah titik terlemah dari sistem demokrasi Amerika Serikat (AS): opini publik.

Kalau AS menyerang, Iran tidak akan repot-repot membalas ke kapal baja. Iran akan memastikan ada kantong mayat (body bags) yang pulang ke AS. Di tahun pemilu, video peti mati tentara AS yang diturunkan dari pesawat adalah racun mematikan bagi suara pemilih Trump.

Iran juga tidak mau menutup Selat Hormuz karena ditekan. Rugi bandar. Itu urat nadi jualan minyak mereka sendiri.

Sebagai gantinya, mereka menggerakkan ”adik-adik asuh” mereka. Terutama kelompok Houthi di Yaman. Jangan bayangkan Houthi itu cuma kelompok bersarung dan bersandal jepit pegang AK-47. 

Hari ini mainan intelijen Houthi laptop, drone canggih, dan sistem pemantau. Mereka mengintip pergerakan agen CIA dan Mossad di Timur Tengah. Menyiapkan serangan asimetris yang bikin AS senam jantung.

DRAMA SULTAN DIGITAL

Di pinggir stadion yang penuh pasir dari gurun itu, ada penonton VIP. Kadang duduk di kursi paling depan, tapi lututnya gemetaran: Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Satu dekade lalu, mereka ini suporter paling berisik. Teriak-teriak memprovokasi agar AS menghancurkan Iran. Sekarang? Mereka yang paling sibuk bawa air putih, jadi juru damai.

Lho, kok putar haluan? Pangeran Arab kok mendadak kalem? Sebab, mereka sedang kena demam penyakit baru: sultan digital.

Riyadh dan Abu Dhabi sedang membangun visi masa depan. Mereka sadar minyak bumi bakal habis. Mereka tidak mau lagi murni jualan minyak. Mereka ingin jadi ibu kota artificial intelligence (AI) dan cloud computing sedunia.

Kategori :