Ekspor ke AS kini Nol Persen, Produk Tekstil Ditarget Tumbuh 10 Kali Lipat

Sabtu 21-02-2026,13:18 WIB
Reporter : Fiella Widya Rahma Aprillia
Editor : Taufiqur Rahman

HARIAN DISWAY - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan produk tekstil dan pakaian jadi asal Indonesia akan menikmati tarif impor nol persen ke Amerika Serikat (AS). Kesepakatan ini merupakan bagian dari Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani pada Kamis, 19 Februari 2026.

Melalui skema Tariff-Rate Quota (TRQ), AS berkomitmen menghapus bea masuk bagi produk garmen nasional guna meningkatkan daya saing di pasar global. Kebijakan ini diprediksi akan menjadi penyelamat bagi kapasitas produksi industri dalam negeri serta menjaga stabilitas penyerapan tenaga kerja.

Menko Airlangga menegaskan bahwa dampak dari perjanjian ini sangat masif bagi kesejahteraan masyarakat, khususnya mereka yang menggantungkan hidup pada industri padat karya tersebut.

“Hal ini tentunya memberikan manfaat bagi 4 juta pekerja di sektor ini. Dan kalau kita hitung dengan keluarga, ini akan sangat berpengaruh terhadap 20 juta masyarakat Indonesia,” ucap Menko Airlangga dalam konferensi pers.

BACA JUGA:Airlangga Pastikan Stok Beras Aman Dukung Bansos Kuartal I 2026

BACA JUGA:Menko Airlangga Ungkap Prabowo Akan Teken Kesepakatan Dagang dengan AS Bulan Ini

Lebih lanjut, Airlangga menambahkan bahwa kebijakan ini akan membantu industri tekstil dan pakaian jadi Indonesia untuk memperluas penetrasi ke pasar AS. Yang menurutnya lebih besar sekitar 28 kali dibanding pasar domestik Indonesia.


Langkah ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) hingga 10 kali lipat dalam 10 tahun mendatang.

“Indonesia merencanakan untuk mengembangkan ekspor industri tekstil dari sekitar USD 4 miliar ke USD 40 miliar dalam 10 tahun, jadi saya pikir pembukaan pasar ini sangat perlu untuk industri Indonesia,” jelas Airlangga.

Pada awalnya, Indonesia dikenakan tarif sebesar 32 persen oleh AS, hingga akhirnya disepakati tarif resiprokal 19 persen sebagai dasar. Namun, Indonesia berhasil mengamankan tarif 0-10 persen untuk produk tertentu melalui perjanjian ART. 

BACA JUGA:Airlangga Buka Suara Usai Mundurnya Pimpinan OJK–BEI, Prabowo Ingin Percepat Reformasi Pasar Modal

BACA JUGA:Menko Airlangga dan Menkeu Purbaya Beberkan Paket Ekonomi Baru Tahun 2025

Kesepakatan Indonesia dan AS ini merupakan hasil proses negosiasi intensif sejak pengumuman kebijakan tarif resiprokal AS pada April 2025.(*)

*) Peserta Magang dari Universitas Negeri Surabaya

Kategori :