HARIAN DISWAY - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menandai transformasi signifikan dalam arah politik luar negeri Indonesia melalui pernyataan kesediaannya untuk menyiapkan 8.000 personel pasukan perdamaian saat menghadiri pertemuan Board of Peace (BoP).
Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menegaskan bahwa kesediaan tersebut bukanlah respon spontan, melainkan wujud nyata dari diplomasi aktif yang didasarkan pada legitimasi moral serta kepentingan strategis jangka panjang Indonesia.
“Indonesia tidak lagi sekadar menyuarakan perdamaian, tetapi turut membentuk arsitekturnya,” kata Khairul pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Menjelang pertemuan BoP, Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan di Dewan Keamanan PBB bahwa seluruh inisiatif perdamaian wajib berlandaskan prinsip kedaulatan penuh Palestina.
BACA JUGA: Kemlu Kecam Rencana Israel Tetapkan Lahan Tepi Barat sebagai Wilayah Negara
BACA JUGA: Israel Intensifkan Pencaplokan Tepi Barat, Arab Saudi Marah Besar!
Khairul menilai penjelasan tersebut sangat krusial guna menjamin Indonesia tidak terjebak dalam upaya rekonstruksi yang mengabaikan aspek keadilan.
“Dalam forum pertemuan perdana para pemimpin BoP, Presiden Prabowo kemudian menggemakan kompas moral tersebut agar kontribusi Indonesia tetap berpijak pada Solusi Dua Negara sebagai pilar utama,” katanya.
BOCAH PALESTINA duduk di reruntuhan Pazar Zawiya, Gaza, 18 Februari 2026. Kota itu nyaris rata dengan tanah.-Omar Al-Qattaa-AFP-
Khairul melihat International Stabilization Force (ISF) sebagai platform stabilitas baru berbasis kolaborasi lintas negara dengan struktur komando besar, dimana keputusan Indonesia untuk menjabat sebagai Wakil Komandan diyakini akan meningkatkan posisi diplomatik negara secara signifikan.
Ia menilai jabatan tersebut tidak sekedar memberikan prestise, melainkan juga menjamin akses Indonesia dalam pengambilan keputusan strategis terkait masa depan Gaza yang saat ini menghadapi kehancuran masif, termasuk tumpukan puluhan juta ton puing dan sisa jaringan terowongan konflik.
BACA JUGA: Paus Leo XIV Tegaskan Vatikan Tolak Gabung Board of Peace
BACA JUGA: Selain Gelontorkan Rp84 Triliun, BoP Kirim Ribuan Tentara ke Gaza
Komandan ISF Mayor Jenderal Jasper Jeffers menyambut hangat kesiapan Indonesia untuk mengisi posisi Deputy Commander tersebut, yang ia nilai sebagai bentuk komitmen nyata dari Asia Tenggara.
Bagi TNI, keterlibatan dalam Combined Joint Operations Center memiliki nilai strategis yang sangat tinggi karena operasi skala besar ini memberikan peluang untuk meningkatkan kemampuan interoperabilitas.
Menurutnya, partisipasi ini juga menjadi sarana memperkuat sistem logistik lintas negara serta mengadopsi standar komando koalisi tingkat tinggi.
“Ini adalah lompatan pembelajaran yang sulit diperoleh dalam misi perdamaian reguler,” ujar Khairul.
BACA JUGA: Palestina Tak Mau Berdamai dengan Israel, Ini 4 Motifnya
BACA JUGA: WNI Diduga Jadi Tentara Israel, Ini Besaran Gaji Serdadu IDF
Meskipun demikian, Khairul Fahmi memperingatkan bahwa Gaza bukanlah medan untuk sekedar wilayah demonstrasi kapabilitas militer, melainkan ruang dengan ancaman asimetris yang sulit untuk diprediksi.
Keberadaan sisa-sisa elemen bersenjata, jaringan bawah tanah, serta kelompok-kelompok yang menolak peluncuran senjata dinilai membuat operasi stabilisasi di wilayah tersebut sangat rentan terhadap provokasi.
“Dalam Konteks inilah sensitivitas situasional dan presisi kontra-intelijen menjadi penentu keberhasilan operasi,” katanya.(*)
*) Peserta Magang dari Universitas Trunojoyo Madura