HARIAN DISWAY - Aprilia kembali mengguncang peta persaingan MotoGP. Pada seri pembuka MotoGP 2026 di Sirkuit Internasional Chang, Buriram, pabrikan asal Noale itu memperkenalkan inovasi aerodinamika aktif yang cerdik, memanfaatkan celah regulasi tanpa aturan tertulis. Sebuah terobosan teknis yang berpotensi mengubah cara tim-tim memaksimalkan kinerja di jalur lurus dan tikungan.
Para insinyur pabrikan asal Noale tersebut telah menemukan celah dalam regulasi dengan mereplikasi praktik yang pertama kali dieksploitasi untuk meningkatkan performa di lintasan lurus pada motor RS-GP musim ini. Inovasi serupa bahkan pernah dilarang di Formula 1 lebih dari 15 tahun lalu.
Berdasarkan buku peraturan MotoGP saat ini, khususnya Pasal 2.4.4 tentang bodi motor, aturan tersebut mencakup dimensi, jumlah, serta homologasi perangkat aerodinamis guna membatasi downforce.
Dalam peraturan tertulis bahwa setiap bagian bodi aerodinamis harus terpasang sedemikian rupa sehingga tidak memungkinkan adanya penyesuaian aktif (baik melalui sambungan, bantalan, maupun desain lain yang memungkinkan perubahan bentuk, orientasi, atau posisi secara sengaja) maupun pasif.
BACA JUGA:Kejutan Jelang GP Thailand 2026: Alex Marquez Belok ke KTM
BACA JUGA:Aprilia Salip Yamaha, Bagnaia Menuju Revolusi MotoGP 2027
Artinya, meskipun beberapa motor produksi massal untuk penggunaan jalan raya telah memiliki komponen aerodinamis yang dapat digerakkan secara mekanis, hal tersebut belum pernah diterapkan dalam ajang balap Grand Prix.
Pada 2026, Aprilia menemukan cara untuk menyiasati regulasi tersebut. Bukan dengan mengubah bentuk komponen aerodinamika motor, melainkan dengan memodifikasi aliran udara di atasnya melalui sebuah “saklar fluida”. Sistem ini tidak dioperasikan oleh komponen mekanis yang bergerak, melainkan oleh lengan bawah pembalap saat berada dalam posisi aerodinamis optimal.
Perangkat ini sebenarnya pertama kali terlihat pada Aprilia RS-GP saat uji coba pramusim di Sepang pada awal Februari 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir, Aprilia memang dikenal sebagai salah satu pelopor inovasi aerodinamika di MotoGP.
Insinyur Noale bahkan mampu mematahkan dominasi awal Ducati dalam pengembangan aero, dengan menghadirkan desain fairing yang tidak hanya menciptakan downforce di lintasan lurus, tetapi juga menghasilkan efek tekanan ke tanah (ground effect) yang membantu motor lebih stabil dan lincah saat menikung.
Inovasi tersebut berkontribusi pada peningkatan signifikan performa RS-GP. Marco Bezzecchi bahkan tampil sebagai salah satu pembalap paling komplet di grid menjelang akhir 2025, dengan kemampuan menikung dan kecepatan di tikungan menjadi keunggulan utama RS-GP dalam memangkas selisih waktu.
BACA JUGA:Bursa Transfer MotoGP 2027: KTM Bidik Maverick Vinales dan Alex Marquez untuk Tim Utama
BACA JUGA:Kejutan! Ducati Ikat Pedro Acosta untuk MotoGP 2027, Abaikan Fabio Quartararo
Meski paket aerodinamika terbaru membuat motor jauh lebih cepat di tikungan, ada konsekuensi yang harus dibayar: kecepatan puncak menjadi lebih rendah. Elemen ground effect yang terintegrasi di kedua sisi fairing menciptakan hambatan tambahan di lintasan lurus yang panjang karena aliran udara tidak lagi mengalir bebas.