Tapi, janji presiden AS itu rawan hangus kalau ganti pemerintahan. Mirip janji politikus gadungan pas kampanye: ”Jalan kampung pasti mulus!” Boro-boro mulus, ditambal aja nunggu jalanannya viral di medsos dulu.
Lapis ketiga: Eksistensial. Tembok betonnya ada di sini. Berat.
Urusan rudal balistik. Israel dan AS minta program rudal Iran distop selamanya. Bagi Iran yang puluhan tahun diembargo, rudal itu harga diri sekaligus nyawa.
Menyerahkan rudal sama dengan menyerahkan leher. Ibarat tetangga resek yang melarang Anda punya pisau dapur seumur hidup. Kalau mau motong bawang, disuruh pinjam ke dia. Siapa yang mau?
Lucunya, di sela-sela negosiasi alot itu, utusan AS nyambi bertemu delegasi Ukraina. Bahas proyek rekonstruksi. Bayangkan.
Pagi bahas nuklir dengan Iran, siang bahas semen dengan Ukraina. Jenewa sudah berubah jadi pasar kaget diplomatik.
GODAAN MENYERANG
Di antara negosiasi yang tersendat dan perang total yang mengerikan, ada opsi ketiga. Yang jarang dibicarakan. Tapi, selalu ada di ruang bawah tanah Pentagon.
Serangan terbatas.
Bahasa kerennya: surgical strike. Operasi bedah. Bukan perang besar-besaran kayak Irak 2003. Tapi, operasi kilat semalam. Targetnya: fasilitas nuklir di Natanz, Fordow, Parchin. Dihajar pakai F-35 dan rudal jelajah. Selesai sebelum subuh. Besok paginya dunia kaget.
Opsi itu menggoda.
Lebih murah daripada perang total. Risiko korban lebih kecil. Bisa dijual ke publik sebagai ”tindakan defensif”. Program nuklir Iran mundur dua tahun. Elektoral Trump naik. Semua orang senang.
Tapi, ada yang lupa.
Iran punya rudal. Banyak. Rudal itu bisa mencapai pangkalan AS di Qatar, UAE, Bahrain. Begitu Natanz meledak, rudal itu bisa meluncur. Bukan ke Tel Aviv saja. Tapi, juga ke markas-markas Amerika Serikat di sekitar.
Hizbullah di Lebanon punya 150 ribu roket. Bukan mainan. Kalau perang mulai, roket itu bisa menghujani Tel Aviv. Warga lari ke bunker. Ekonomi lumpuh.
Houthi di Yaman bisa tutup Selat Bab el-Mandeb. Kapal minyak berhenti. Harga minyak dunia meroket. Inflasi di mana-mana. Ibu-ibu di Pasar Senen makin pusing lihat harga minyak goreng.