Meninjau Negosiasi Berdahak Iran-Amerika Serikat

Jumat 27-02-2026,21:32 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Editor : Yusuf Ridho

DI Washington, politisi AS seperti J.D. Vance dan Marco Rubio berteriak garang: Iran haram punya bom nuklir! Di ujung setiap gertakan mereka, selalu ada nada ancaman. Gayanya mirip preman pasar Tanah Abang: ”Bayar uang keamanan atau lapakmu saya obrak-abrik.”

Namun, di Jenewa, Swiss, suasananya beda. Utusan AS dan Iran duduk manis di meja perundingan. Oman bertindak jadi makcomblang. 

Diplomat Iran bilang negosiasinya ”sangat serius”. Tapi, di akhir kalimat, tetap saja mereka menuduh AS mencla-mencle.

BACA JUGA:Satu Menit sebelum Iran Berdarah

BACA JUGA:KTT Perdamaian Tanpa Kehadiran Iran

Wajar kalau curiga. Ini ibarat main aplikasi kencan: swipe right sepakat ketemuan mesra, tapi pas nge-date, tangannya ngumpetin pistol di bawah meja. 

Bagaimana tidak? AS datang bawa proposal damai, tapi di perairan Timur Tengah mereka menyiagakan dua kapal induk. Kata pakar geopolitik, itu namanya strategi maximum pressure dual track.

Kata orang: ini mah debt collector nyamar jadi tukang pos. Ngajak salaman, tapi kakinya siap nendang tulang kering.

BACA JUGA:Iran Serang Israel, Perang Dunia Ketiga di Depan Mata?

BACA JUGA:Perang Iran vs Israel dan Instabilitas Pasar Komoditas Dunia

TIGA LAPIS MASALAH

Perundingan geopolitik ini tidak sesederhana mematikan saklar reaktor.

Persoalannya berlapis-lapis. Kayak kue lapis legit, tapi yang ini bikin diabetes.

Lapis pertama: Teknis. Urusan nuklir, jumlah sentrifugal, pengayaan uranium. Itu gampang. Ada pengawas badan atom PBB (IAEA). Ibarat ibu-ibu beli sayur: tawar-menawar dikit, timbang, bayar, bungkus. Selesai.

Lapis kedua: Politis. Mulai ruwet. Iran minta sanksi dicabut dan jaminan tak diserang. AS di bawah Trump mungkin bisa sepakat. 

Kategori :