Itulah risiko yang bikin jenderal di Pentagon mikir dua kali. Bukan karena takut. Tapi, karena tahu: perang di Timur Tengah tidak pernah berakhir sesuai rencana.
Irak 2003 direncanakan selesai mingguan. Nyatanya? Masih berantakan. Afghanistan direncanakan satu musim. Nyatanya? Dua puluh tahun. Libya direncanakan ”kemanusiaan”. Nyatanya? Jadi pasar budak.
KESEPAKATAN BERDAHAK
Kalau dibaca sementara: perundingan ini berujung pada kesepakatan setengah matang.
Lapis teknis akan beres. Trump pamer foto tersenyum lebar. Media Barat bikin headline ”Terobosan Bersejarah!”.
Semua tepuk tangan. Padahal, masalah utamanya, yakni rudal balistik, cuma disapu ke bawah karpet untuk diurus presiden berikutnya.
Kesepakatan semacam itu pada akhirnya cuma terasa seperti pesanan jus alpukat tanpa gula: niatnya sih mencari yang sehat dan menyegarkan, tapi pas diseruput rasanya hambar, seret di tenggorokan, dan bikin mood berantakan. Tidak ada manis-manisnya sama sekali.
Negosiasinya ”berdahak”, tidak mematikan, tapi bikin batuk gatal berkepanjangan. (*)