“Saya mencintai Alvaro [Arbeloa] dan akan terus mencintainya, tapi saya pikir sayalah yang membuat keputusan yang tepat, bukan dia,” kata Mourinho. Mantan pelaih Los Blancos itu menjelaskan bahwa sejak konferensi pers di Madrid, ia sudah menyatakan ingin bersikap seimbang.
Mourinho bahkan menggunakan metafora untuk menggambarkan posisinya. Ia menyebut tidak ingin mengenakan “seragam merah Benfica” ataupun “seragam putih Real Madrid”.
Rio Ferdinand bela Mourinho dari tuduhan rasisme usai komentari konflik Vinicius Jr & Prestianni. UEFA hukum pemain Benfica, sementara Mou pilih bungkam.--Getty Images
Maksudnya, ia ingin berdiri netral dalam situasi yang bisa berdampak serius. Baginya, menjadi pelatih berarti juga menjaga integritas dan objektivitas.
Ia mengakui bahwa kasus seperti ini tidak bisa ditangani hanya dengan loyalitas klub semata. Proses hukum dan klarifikasi fakta harus berjalan terlebih dahulu sebelum vonis moral dijatuhkan.
Di akhir sesi, Mourinho kembali mengulang sikapnya yang bersyarat. Ia menolak disebut membela tanpa dasar, tetapi juga tidak mau menghakimi tanpa bukti.
BACA JUGA:Benfica vs Real Madrid: Mourinho Sebut Vinicius Jr Pemicu Kekacauan di Lisbon
BACA JUGA:Real Madrid Tekuk Benfica di Lisbon, Vinicius Jr Laporkan Dugaan Rasisme
“Jika pemain itu benar-benar bersalah, saya tidak akan pernah melihatnya seperti sebelumnya, dan itu akhir bagi saya. Tapi saya harus menempatkan banyak ‘jika’ di depan semuanya,” tutupnya.
Dengan pernyataan itu, Mourinho mencoba meredakan ketegangan sekaligus menunjukkan bahwa prinsip dan proses hukum tetap menjadi pijakan utamanya dalam menghadapi kontroversi besar tersebut. (*)