PHM juga mengedepankan inovasi dan penerapan teknologi yang selaras dengan kebijakan induk usaha, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), serta Subholding Upstream Pertamina, PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
BACA JUGA:Pertamina Hulu Energi Yakin Migas Tetap Jadi Pilar Ketahanan Energi Nasional
BACA JUGA:PT Pertamina Hulu Energi Catat Pertumbuhan Produksi Migas 5 Persen dalam Tiga Tahun Terakhir
Langkah ini dinilai strategis untuk menahan laju penurunan produksi alamiah dari lapangan-lapangan migas yang sudah mature di wilayah Kalimantan.
Secara teknis, produksi perdana Sumur SS-505 mulai mengalir bertahap usai tahap clean-up pada 21 hingga 22 Februari 2026. Capaian awal adalah 12 mmscfd.
Proses clean-up dilakukan menggunakan sand filter guna menjaga keandalan fasilitas produksi. Setelah itu dilakukan prosedur ramp down secara bertahap untuk memastikan respons reservoir dan evaluasi performa sumur.
BACA JUGA:Pertamina Hulu Rokan Rayakan HUT ke-6, Siap Hadapi Tantangan Masa Depan
“Sumur kemudian kembali dibuka dengan target produksi lebih terkontrol pada kisaran 10 hingga 11 mmscfd,” jelas Setyo.
Keberhasilan tersebut dilanjutkan dengan produksi perdana Sumur SS-504 pada 23 hingga hinngga 24 Februari 2026. Melalui tahapan clean-up dan pembukaan bertahap menggunakan sand filter unit, sumur ini akhirnya mencapai laju produksi 11,4 mmscfd pada bukaan choke 46/64 inci.
Rangkaian capaian ini menjadi sinyal bahwa pengembangan Sisi Nubi AOI berjalan sesuai rencana dan semakin memperkuat posisi Mahakam sebagai salah satu tulang punggung pasokan gas nasional. (*)