BACA JUGA:Julius, Perajin Barongsai yang Banjir Orderan Jelang Imlek 2024
Di tangan mereka terdapat amplop merah. Angpau. Para barongsai dan liong-liong satu per satu mendekat.
Masing-masing diberi selembar angpau. Mereka memasukkannya ke dalam mulut barongsai.
Begitu pula dengan liong-liong. Pemain yang bertugas memegang kepala akan sedikit menurunkan kepala naga tersebut.
Rute terakhir sama dengan rute awal. Yakni kembali ke Kelenteng Poo An Kiong. Di depan pintu kelenteng, para barongsai berkumpul dalam barisan menyamping.
BACA JUGA:Tiga Seniman Jepang Tampilkan Barongsai Kontemporer di Pecinan Tambak Bayan
BACA JUGA:Magnet Barongsai di Perayaan Imlek G-Walk Surabaya
Liong-liong di bagian belakang. Lantas, melakukan gerakan pai atau salam penghormatan. Yakni dengan cara menundukkan kepala.
Kirab budaya itu berlangsung selama kurang lebih dua jam. Para pemainnya didominasi anak muda.
Lintas suku. Lintas agama. Barongsai dan liong-liong memang bukan milik agama tertentu.
Melainkan bagian dari tradisi. Pertunjukan kesenian. Sehingga dapat diikuti oleh siapa saja.
BACA JUGA:Koci Jatim 2022: Rapat bersama Dahlan Iskan hingga Photoshot bersama Barongsai
BACA JUGA:Eri Cahyadi dan Dahlan Iskan Hadir di Kya-Kya Diiringi Barongsai
Salah seorang warga Blitar memberikan angpau pada liong-liong dalam Kirab Barongsai yang digelar Kelenteng Poo An Kiong, 3 Maret 2026.-Guruh D.N.-Harian Disway
Julio Catur Saputra Wibowo, salah seorang pemain kepala barongsai, tampak berkeringat. Namun, tak tampak rasa lelah.
"Kalau capek sih enggak. Hanya panas banget cuacanya hari ini," ujar remaja 13 tahun itu, kemudian tertawa.