Trump Arok

Selasa 03-03-2026,22:57 WIB
Reporter : Arif Afandi
Editor : Yusuf Ridho

PEDIH RASANYA. Saat mendengar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kematian pemimpin Iran Ayatollah Ali Hosseini Khamenei. Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.

Bukan soal kematiannya. Sebab, otoritas tertinggi keagamaan dan politik itu sudah siap mati syahid. Ia sudah tahu risikonya ketika melawan kekuatan AS dan Israel. Kematian yang sesuai dengan doanya.

Bagi pemimpin agama seperti Khamenei, kematian adalah jalan baru yang sudah ditunggu. Apalagi, ia mengaku telah menyiapkan secara berlapis penggantinya jika sampai mati syahid dalam peperangan ini.

Ia bukan pemimpin yang tinggal glanggang colong playu. Yang meninggalkan rakyatnya untuk mencari selamat sendiri. Ia sudah bertekad tak akan mengungsi dan ingin terkubur di bumi Iran.

BACA JUGA:Trump Mau Apa sih?

BACA JUGA:Donald Trump dan Fufufafa

Yang terasa pedih adalah cara Trump melabeli sang tokoh. Yang disebutnya sebagai orang paling jahat dalam sejarah. Pelabelan moral yang pasti bertentangan dengan standar di Iran.

Itu sebuah pernyataan yang jelas menyakitkan bagi warga Iran pendukung Khamenei. Juga, para simpatisan antidominasi Barat di luar negeri.

Pasti ada yang berpikir, bukankah Trump jauh lebih jahat? Yang telah ”menculik” Presiden Venezuela Nicolas Maduro saat sedang berkuasa secara sah.

Bukankah ia jauh lebih jahat karena membiarkan mitra dekatnya, Israel, melakukan genosida di Gaza? Juga, yang secara sadar menargetkan pembunuhan terhadap Ali Khamenei dan pemimpin Iran lainnya?

BACA JUGA:Dua Wanita Gagal Taklukkan Donald Trump

BACA JUGA:Reality Show ala Trump (Jokowi dan Prabowo)

Tidakkah ia lebih jahat karena memprovokasi rakyat negara lain untuk melawan pemimpinnya? Menyiapkan kepala negara boneka yang bisa dikendalikannya? Seperti yang ditargetkan untuk Iran.

Tapi, masalahnya, konsep ”jahat” itu memang relatif. Bergantung kepada sudut pandang moral dan politik. Istilah jahat tidak memiliki definisi universal. 

Apalagi, dalam politik internasional. Seorang pemimpin bisa dianggap pahlawan di satu pihak. Tapi, bisa dianggap penjahat di pihak lain.

Kategori :