Dalam logika kekuasaan global, negara yang tak mau tunduk memang selalu diberi dua pilihan: dilabeli jahat atau dihancurkan sekalian. Jika tetap berdiri, ia dianggap ancaman. Jika melawan, ia disebut teroris. Jika bertahan, ia dituduh provokator.
Di sinilah Trump-Arok menemukan panggungnya. Seperti Ken Arok dalam legenda Jawa, ia tahu benar bahwa sejarah ditulis oleh pemenang –atau setidaknya oleh mereka yang menguasai panggung dan pengeras suara.
Bedanya, keris Empu Gandring kini berubah menjadi drone, sanksi ekonomi, dan veto di Dewan Keamanan PBB. Tapi, narasinya sama: siapa yang menang, merekalah yang menentukan siapa ”jahat” dan siapa ”pahlawan”. Moralitas bukan lagi cermin nurani, melainkan instrumen strategi.
Ironisnya, dunia modern yang mengaku rasional justru gemar menyederhanakan konflik kompleks menjadi cerita komik: ada tokoh putih, ada tokoh hitam. Padahal, politik internasional lebih sering berwarna abu-abu pekat.
Ketika menunjuk orang lain sebagai paling jahat dalam sejarah, Trump seolah lupa bahwa sejarah bukan ruang sidang miliknya seorang. Bukan ruang kosong yang bisa dimainkan seorang diri.
Sejarah itu pasar bebas tafsir. Di pasar itu, setiap kekuatan besar selalu membawa spanduk kebenarannya sendiri, lengkap dengan diskon moral untuk sekutunya dan pajak dosa untuk lawannya. (*)