Warga Kanada Boleh Memilih Hari Kematiannya: Meninggal Tersenyum, Dikelilingi Keluarga

Kamis 05-03-2026,13:02 WIB
Reporter : Doan Widhiandono
Editor : Noor Arief Prasetyo

Salah satu misteri itu adalah hari kematian. Tak ada yang bisa menduga. Tak ada yang mampu memperkirakan. Tapi, warga Kanada punya keistimewaan. Mereka bisa memilih hari kematian mereka sendiri.

AKHIRNYA penderitaan Jacques Poissant berhenti. Di hari itu, ia bertanya kepada sang putri. ’’Apakah meminta bantuan untuk meninggal itu sebuah tindakan pengecut?’’ katanya.

Poissant memang tak mau menderita lama-lama. Ia memilih mengakhiri hidupnya dengan dibantu para dokter. Pensiunan penasihat asuransi asal Kanada itu sudah berusia 93 tahun. Beberapa dekade terakhir hidupnya dihabiskan dengan susah payah, melawan kanker prostat.

’’Ayah sudah tidak punya gairah hidup,’’ ucap Josee Poissant, sang putri, yang ditulis kantor berita Agence France-Presse, 4 Maret 2026.

BACA JUGA:Hadiah Imlek untuk Inggris-Kanada: Ke Tiongkok Bisa Tanpa Visa

BACA JUGA:Penembakan Sekolah dan Rumah di Kanada, Sembilan Orang Tewas: Batalkan Agenda Perdana Menteri

Tahun lalu, ibu Josee, yang berusia 96 tahun, juga mengambil pilihan yang sama. Perempuan sepuh itu menyadari bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan rumah sakit. Sang ibu meninggal dikelilingi anak-anak dan menantu. Juga cucu-cucu. Dia meregang nyawa sambil mendengarkan musik kesukaannya. ’’Ibu sangat tenang. Dia bernyanyi sampai tertidur,’’ kata Josee. Tidur dalam keabadian.

Meski begitu, Josee mengenang saat itu sebagai hal yang sangat indah. Mengharukan. ’’Memang, tidak ada cara terbaik untuk meninggal. Tapi, bagi saya, itu yang terbaik,’’ katanya. Josee pun merasakan keistimewaan. Dia punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal.

Ya, satu dari 20 warga Kanada yang meninggal pada 2023 memilih sendiri waktu kematian mereka. Negara itu memang melegalkan ’’bantuan medis untuk mengakhiri hidup’’ sejak 2016. Lima tahun kemudian, aturan itu juga diperbolehkan untuk warga yang punya penyakit serius. Bahkan jika kematian itu tidak terjadi dalam waktu dekat.

Kini, Kanada melangkah lebih jauh. Parlemen sedang menggodok aturan apakah ’’bantuan kematian’’ itu juga bisa diperbolehkan untuk mereka yang menderita gangguan mental.


KENANGAN LAMA Rachel Fournier di album foto milik keluarganya. Dia dirawat di rumah sakit paliatif di Quebec, Kanada, karena kanker otak.-Sebastien ST-Jean-AFP-

Salah satu yang berharap pada aturan anyar itu adalah Claire Brosseau. Mantan komika itu sudah berjuang bertahun-tahun lewat pengadilan. Dia menuntut hak kematiannya karena puluhan tahun bergulat dengan gangguan bipolar.

“Saya telah dirawat oleh psikiater, psikolog, konselor, serta menjalani rehabilitasi di Montreal, New York, Toronto, dan Los Angeles,” ujarnya.

“Saya mencoba antidepresan, antipsikotik, penstabil suasana hati, benzodiazepin, obat tidur, stimulan, terapi perilaku kognitif, terapi perilaku dialektis, tai chi, reiki, meditasi, veganisme, terapi seni, dan terapi musik,” ucap Brosseau. Tapi semuanya tak ada yang cespleng.

Setiap hari adalah momen ujian bagi perempuan 49 tahun yang tinggal bersama Olive, anjingnya, di apartemen kecil di Toronto tersebut.

Kategori :