Yang paling mengguncang Iran, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan itu. Seorang pemimpin mati. Ribuan pengikutnya menangis. Tapi, kematian tetaplah kematian. Tak peduli kau pemimpin atau rakyat biasa, rasanya sama perih bagi yang ditinggal.
Di tengah semua itu, para ahli sibuk menghitung strategi. Kelly Grieco dari Stimson Center berkata, AS bisa kehabisan rudal pencegat sebelum Iran kehabisan rudal. Hitung-hitungannya kejam.
BACA JUGA:Indonesia Hampir Rampungkan Kontrak Pembelian Rudal Supersonik BrahMos dari India
BACA JUGA:Indonesia Bahas Modifikasi Sukhoi TNI AU dengan Rudal BrahMos dari India
Rudal pencegat jutaan dolar, drone Shahed Iran hanya puluhan ribu dolar. Iran main game logistik. Mereka menguras kantong lawan dengan darah murah.
NUKLIR, TOMBOL MERAH YANG TAK JAUH
Di sela-sela perang yang membakar, bayang-bayang nuklir mulai merayap pelan.
Perjanjian New START antara AS dan Rusia, satu-satunya tali yang mengikat kedua raksasa nuklir itu, resmi putus pada 5 Februari 2026. Untuk kali pertama sejak 1972, tidak ada lagi batasan. Tidak ada lagi yang mengawasi.
AS kini bebas. Bebas memperbanyak hulu ledak. Bebas memperkuat gudang kematian mereka. Thomas DiNanno, wakil menteri luar negeri AS, berkata dengan enteng. Kendala sepihak telah berakhir.
Rusia punya 4.309 hulu ledak. AS 3.700. Tiongkok 600. Dan, semua angka itu bukan sekadar statistik. Mereka adalah potensi kiamat yang tertidur di dalam silo-silo bawah tanah. Mereka menunggu saatnya dipanggil.
Paus Leon XIV mengingatkan dunia yang rapuh. Tapi, siapa peduli pada kata-kata lembut ketika rudal masih berhamburan di langit? Siapa peduli pada perdamaian ketika tombol merah itu masih ada, masih hangat, dan bisa memusnahkan kita semua?
MEREKA YANG TAK SEMPAT BILANG SAYANG
Perang selalu memunculkan angka. Berapa rudal yang diluncurkan. Berapa target yang hancur. Berapa korban jiwa yang jatuh.
Tapi, angka tidak punya perasaan. Manusia punya.
Lihatlah Hossein. Umurnya 47 tahun. Ia insinyur rudal Iran. Pagi sebelum kejadian, istrinya membuatkan teh. Manis. Dua sendok gula.
Lalu, Hossein pamit. Turun ke bunker bawah tanah. Dari sana, ia mengetik pesan di handphone-nya.