”Maafkan Ayah. Jaga Fatimah dan kakaknya. Ayah sayang kalian.”
Pesan itu tidak pernah terkirim. Sinyal putus. Bom keburu menghantam. Hossein tewas. Terkubur hidup-hidup bersama 111 temannya.
Di saat yang sama, Fatimah, anak bungsunya, sedang duduk di kelas. Umurnya 14 tahun. Ia sedang ujian biologi. Pertanyaannya kebetulan tentang fungsi jantung. Bapaknya pernah bilang: ”Kamu harus jadi dokter, Nak.”
Saat pena Fatimah menuliskan jawaban tentang jantung, jantung ayahnya berhenti berdetak. Selamanya.
Kisah lain ada di Virginia, Amerika Serikat. Namanya Michael. Kolonel militer. Pengabdi 22 tahun. Malam itu ia disodori amplop merah. Isinya ngeri: opsi peluncuran nuklir.
Michael membuka laci. Ada foto Lily di situ. Anak perempuannya. Masih 5 tahun. Giginya ompong. Senyumnya lebar. Tangan sang kolonel gemetar. Ia membayangkan senyum itu bisa hilang selamanya.
Michael menolak. Ia memilih pensiun.
Kini ia jualan kopi. Pagi-pagi ia menuang susu untuk Lily. Tapi, setiap malam Michael duduk sendirian di teras. Memandang bintang. ”Siapa yang memulai semua ini?” batinnya.
Bintang tentu saja diam. Di kepala sang mantan kolonel, suara sirene perang itu belum mau pergi. Ia merasa tak berhak bahagia.
Kembali ke Teheran. Zahra, kakak Fatimah, menulis di buku hariannya. Umurnya 17 tahun.
Ia marah. Marah kepada rudal. Marah kepada perang. Tapi, paling marah kepada diri sendiri. Karena tidak sempat bilang sayang. Zahra bersumpah tidak akan jadi insinyur seperti sang ayah. ”Aku tidak mau bikin alat pembunuh,” ujar dia. Sang ibu hanya bisa memeluk dia erat.
Malam makin larut. Di kamar yang sepi, Fatimah mencium kemeja putih sang ayah. Masih ada bau khas di sana: tembakau, kopi, keringat. Bau yang akan ia rindukan seumur hidup.
Di dapur, sang ibu masih melakukan kebiasaan lamanya. Menyeduh teh. Dua sendok gula. Dituang ke cangkir keramik biru yang pinggirnya sedikit retak. Ditaruhnya di depan kursi yang kini kosong.
Ditunggu sampai uapnya hilang. Sampai tehnya dingin. Dibuang ke wastafel. Lalu, dibikin lagi yang baru. Membayangkan sang suami tersenyum sambil menyesapnya.
Sejarah dunia kelak akan mencatat perang singkat itu sebagai kemenangan besar. Taktik jitu. Logistik efisien. Bagi para jenderal, itu prestasi.
Tapi, bagi istri Hossein, bagi Fatimah, bagi Zahra... perang hanya punya satu nama.