Heboh Bayi-Bayi Hidup Dibuang di Jakarta: Dampak Kemiskinan?

Sabtu 07-03-2026,21:22 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

Diteliti lagi, tampak plasenta bayi seperti baru saja dipotong. Artinya, baru dilahirkan.

Fakta bayi itu selamat, sudah mengherankan. Fakta lain, bayi itu ternyata punya dua kakak kandung yang juga dibuang di sekitar wilayah tersebut beberapa tahun sebelumnya, jadi peristiwa langka.

Prof Lorraine Sherr dari University College London: ”Seluruh kasus ini luar biasa. Peristiwa langka.”

Ortu bayi itu tidak ditemukan polisi. Tapi, hubungan antara bayi perempuan itu dan dua kakaknyi yang juga dibuang di wilayah yang sama diungkap wartawan BBC. Si wartawan mendapat izin khusus dari hakim setempat untuk melakukan uji DNA terhadap tiga bayi yang ditemukan warga di wilayah yang sama. 

Hasilnya identik. Tiga bayi itu bersaudara. 

Ceritanya, pada 2017 ditemukan bayi laki-laki di Plaistow. Kemudian, dirawat di panti sosial, diberi nama Harry. Pada 2019 ditemukan bayi perempuan di wilayah yang sama. Dirawat panti sosial, diberi nama Roman. Terakhir, Januari 2024 ditemukan bayi perempuan itu, kemudian diberi nama Elsa.

Jadi, ada ibu setelah melahirkan membuang tiga anaknyi di wilayah itu. Identitas si ibu belum ketahuan sampai sekarang. Itu peristiwa langka di Inggris.

Pada abad ke-18 di Inggris banyak pembuangan bayi. Saat itu negara tersebut sangat miskin. Rakyat hidup sulit. RS Foundling yang dibangun Thomas Coram menampung bayi-bayi buangan itu. Ada ribuan. Per tahun rata-rata seribu bayi buangan ditampung di sana. 

Kini Inggris negara kaya. Jarang ada bayi dibuang. Perubahan itu karena akses terhadap kontrasepsi, perubahan sikap masyarakat terhadap bayi yang lahir di luar nikah, dan munculnya negara kesejahteraan.

Riset oleh Sherr dan tim pada 2009 menyebutkan, berdasar laporan pers Inggris dari tahun 1998–2005, ada 16 bayi baru lahir ditinggalkan per tahun. 

Sangat sedikit yang diketahui tentang apa yang mendorong orang tua meninggalkan bayi mereka. Menurut studi tahun 2009, kurang dari sepertiga (28 persen) ibu tersebut ditemukan atau melapor (tidak ada ayah yang ditemukan secara terpisah dari ibu). Sehingga, timbul multitafsir.

Sherr: ”Jika harus menebak, saya akan mengatakan dalam kasus ini sangat mungkin ada masalah kesehatan mental.”

Faktor lain: narkoba, kemiskinan, masalah keluarga, atau hukum. Misalnya, bayi Elsa –dan saudara-saudaranyi– tidak terdaftar dalam layanan kesehatan ibu hamil atau layanan sosial, yang menunjukkan visibilitas sosial yang rendah.

Karena alasan yang sama, sedikit yang diketahui tentang dampak penelantaran terhadap ibu, meskipun studi tentang adopsi dapat memberikan petunjuk tentang kemungkinan dampak psikologis negatif. Bagi ibu Elsa, mengatasi tidak hanya kehilangan tiga anak, tetapi juga beban rahasia yang mengerikan, tekanannya akan sangat berat.

Menurut penelitian Sherr, sekitar sepertiga bayi baru lahir yang ditinggalkan di Inggris ditemukan meninggal. Bagi mereka yang selamat, ada rasa sakit dan ketidakpastian dalam menerima kenyataan ditinggalkan orang tua mereka. Dampak jangka panjang kepada orang tua dan anak-anak masih kurang diteliti.

Di Indonesia sekarang berarti mirip seperti di Inggris pada abad ke-18. Kalau di Inggris waktu itu penyebab utamanya kemiskinan parah, di Indonesia sekarang mungkin sama. (*)

Kategori :