PDIP Jatim Awasi Pelaksanaan MBG

Rabu 11-03-2026,19:24 WIB
Reporter : Rossa Handini
Editor : Noor Arief Prasetyo

SURABAYA, HARIAN DISWAY - DPD PDI Perjuangan Jawa Timur kini tengah mengkaji program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ya, internal partai telah menginstruksikan kadernya untuk tidak terlibat proyek MBG pada Februari 2026 lalu. 

Selaras dengan hal tersebut, PDI Perjuangan sebagai partai penyeimbang menegaskan posisinya untuk selalu membersamai rakyat.

Politisi PDI Perjuangan, Deni Wicaksono menyampaikan, pihaknya akan terus mengawasi proses pelaksanaan MBG. Sehingga, program dengan anggaran besar itu dapat berdampak baik bagi masyarakat. 

Menurutnya, penting sekali untuk mendukung program-program pemerintah yang telah disepakati bersama. Namun, apabila pelaksanaan program tidak sesuai maka partai akan mengambil sikap tegas. 

BACA JUGA:PDIP Jatim Minta Kepala Daerah Hentikan Kegiatan Seremonial Demi Efisiensi Anggaran

BACA JUGA:Peduli Persiapan Lebaran, DPC PDIP Kabupaten Mojokerto Bagikan Bingkisan

Internal partai pun turut mengawasi SPPG supaya memberikan menu sesuai standar gizi yang benar, sehingga tidak menimbulkan korban, misalnya keracunan.  “Programnya baik untuk anak-anak, tetapi prosesnya itu yang perlu kita kawal,” katanya Kamis, 5 Maret 2026. 

Saat ini internal partai tengah mengkaji dan mencari solusi untuk permasalahan MBG. Misalnya, program MBG penerapannya tidak berjalan dengan baik, proses pembuatannya dapat dialihkan ke kantin-kantin sekolah. Tidak melalui dapur SPPG. 

Lebih ekstrim lagi biaya itu diberikan kepada orang tua siswa agar mereka bisa menyiapkan menu MBG untuk anak-anaknya. 

Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 16.000 kasus keracunan massal ygang menimpa siswa di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DIY.

BACA JUGA:PDIP Jawa Timur Peringati Nuzulul Quran: Seimbangkan Sisi Spiritualitas Partai

BACA JUGA:DPD PDIP Jatim Hadirkan KH Fahmi Amrullah dalam Puncak Peringatan Nuzulul Qur'an 2026

Jawa Barat menjadi wilayah tertinggi dengan 4.955 kasus, disusul Jawa tengah 2.736 kasus dan DIY 2.707.

Penyebab utama bukan pada menu makanannya, melainkan kontaminasi bakteri, seperti E coli atau Salmonella. Itu bisa akibat prosedur sanitasi yang buruk, penyimpanan suhu yang salah, serta durasi pengiriman yang terlalu lama dari dapur pusat ke sekolah.

Faktor lainnya karena penyimpanan makanan yang tidak higienis serta kurangnya pengalaman SPPG dalam memasak porsi yang besar.

Kategori :