Deep Learning untuk Ramadan Berdampak

Jumat 13-03-2026,14:33 WIB
Oleh: Biyanto*

Dua dimensi (the joy dan jihad) penting menjadi kerangka dalam memahami aneka gebyar menyambut Ramadan bukan hanya di Jawa, melainkan juga seluruh penjuru Nusantara. 

Salah satu yang dipotret Andre Moller adalah fenomena mudik. Mudik ke kampung halaman merupakan budaya keagamaan yang khas di Nusantara. Bagi para perantau, hawa kampung halaman terasa begitu menyengat setiap menjelang Idulfitri. 

Semua kenangan mengenai kampung halaman laksana hadir di pelupuk mata. Kerinduan terhadap suasana kehidupan kampung halaman, orang tua, keluarga, tetangga, dan teman bermain pada waktu kecil benar-benar tak tertahan. 

Suasana kebatinan itulah yang dirasakan mereka yang bekerja di perantauan. Termasuk para pekerja migran Indonesia yang mengais rezeki di mancanegara. Keinginan mudik ke kampung halaman pun tak tertahan. 

Uniknya, tradisi mudik telah menjadi semacam ritual bagi semua kalangan. Tidak peduli kelas sosial atas, menengah, atau rakyat jelata. Mudik juga menjadi tradisi lintas budaya, agama, dan paham keagamaan. 

Berbagai motivasi turut menyertai pemudik. Misalnya, rindu kampung halaman, sungkem orang tua, silaturahmi dengan saudara, nyekar ke makam anggota keluarga yang telah meninggal dunia, dan keinginan berbagi kebahagiaan dengan sesama. 

Fenomena perayaan atau selebrasi menyambut Ramadan tampak dalam berbagai ritual seperti megengan dan nyadran (Jawa Timur), munggahan (Jawa Barat), padusan (Jawa Tengah), dan berbagai tradisi di Nusantara. 

Di kalangan anak-anak muda, Ramadan juga diisi dengan beragam budaya populer seperti ngabuburit, buka puasa bersama, berburu takjil, sahur keliling, bahkan sahur on the road

Pasca-Ramadan, umat Islam di negeri ini juga merayakan Idulfitri dengan beragam acara yang dibingkai dalam kegiatan halalbihalal. Semua budaya itu menunjukkan bahwa Islam di Nusantara benar-benar penuh warna (colorful Islam).

Makna colorful Islam dalam konteks ini menunjukkan bahwa Islam di Nusantara banyak diwarnai budaya keagamaan. Dalam perspektif antropologi, beragam budaya keagamaan yang menjadi ”kembang atau bunga” itu dinamakan agama rakyat (popular religion). 

Bahkan, ”saking” dominannya, budaya keagamaan tersebut sering kali menyembunyikan substansi dari ajaran Islam itu sendiri. Dampaknya, umat sulit membedakan mana ajaran agama dan mana budaya keagamaan.

Selain diwarnai dengan kemeriahan dan perayaan, selama Ramadan umat Islam juga dituntut untuk berjuang sungguh-sungguh dalam menata niat sekaligus melapangkan hati. 

Hal itu penting agar setiap pribadi mampu memanfaatkan Ramadan sebagai momentum untuk memperbanyak amal ibadah. Ramadan juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kebiasaan-kebiasaan yang dapat mengurangi pahala ibadah puasa.

UNTUK RAMADAN BERDAMPAK

Sebagai bagian dari pembacaan yang mendalam (deep reading), kita penting memahami Ramadan sebagai bulan pendidikan. Dalam perspektif ini, tentu banyak pelajaran berharga yang dapat diperoleh selama menjalankan ibadah puasa Ramadan. 

Di antaranya, pelajaran mengenai nilai-nilai kejujuran, kesabaran, kesahajaan, solidaritas sosial, serta pengharapan pada pahala dan kenikmatan yang dijanjikan Allah SWT. 

Kategori :